Bakesbangpol Bekali 210 Mahasiswa Baru UM Jember Wawasan Kebangsaan Menuju Indonesia Emas 2045
Jember-Spektroom : Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jember mendorong mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (UM) Jember menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan, mampu menyikapi perbedaan, serta bertanggung jawab dalam menggunakan ruang digital.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Bakesbangpol Kabupaten Jember yang dalam kesempatan ini diwakili Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik, Syamsu Rijal, S.H., M.H., saat memberikan materi dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKK PMB) Tahun Akademik 2026/2027 di Aula Ahmad Zaenuri Kampus Universitas Muhammadiyah Jember, Selasa (15/09/2026).

Materi diberikan kepada 210 mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Jember. Mengangkat tema “Wawasan Kebangsaan Menuju Indonesia Emas 2045”, Syamsu mengajak mahasiswa memahami bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kualitas pilihan, karya, dan kepedulian generasi muda. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami Indonesia secara utuh di tengah derasnya arus informasi digital. Apa yang muncul di beranda media sosial, kata dia, bukanlah cermin utuh dari kondisi Indonesia.
“Beranda kita bukan cermin utuh Indonesia. Algoritma memilih apa yang membuat kita berhenti, bukan apa yang paling penting bagi kehidupan bersama,” ungkapnya.
Syamsu menjelaskan, berdasarkan Sensus Penduduk 2020, sebanyak 27,94 persen penduduk Indonesia merupakan Generasi Z, yakni mereka yang lahir pada 1997 hingga 2012. Besarnya jumlah tersebut menjadi peluang sekaligus tanggung jawab.
Generasi Z dinilai memiliki posisi strategis dalam menentukan arah perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Namun, pengaruh besar tersebut sangat bergantung pada mutu pilihan, karya, serta kepedulian terhadap kehidupan bersama. Dalam konteks itu, wawasan kebangsaan menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk membaca diri, memahami perbedaan, serta melihat kepentingan bersama dalam satu perspektif kebangsaan.
Syamsu mengajak mahasiswa merenungkan tiga pertanyaan mendasar, yakni “Siapa kita? Apa yang menyatukan? dan Apa peran saya?”
Indonesia, lanjutnya, terdiri atas warga dengan beragam identitas, mulai dari daerah, agama, bahasa hingga komunitas. Namun seluruh perbedaan tersebut dipersatukan oleh kesepakatan hidup bersama, hukum, serta cita-cita keadilan dan kemanusiaan.
Semangat Bhinneka Tunggal Ika, menurut Syamsu, tidak berarti menghilangkan perbedaan. Sebaliknya, persatuan harus mampu memberikan ruang bagi perbedaan dengan tetap menjaga martabat manusia, menaati aturan, dan mencari titik temu.
Perhatian khusus juga diberikan terhadap perilaku mahasiswa di ruang digital. Setiap unggahan, komentar, maupun tindakan memberikan informasi dinilai ikut membentuk suasana kehidupan kebangsaan.