Banjir Bandang Agam Ganggu Sekolah, Puluhan Siswa MTsN 3 Absen karena Akses Putus
Spektroom – Banjir bandang dan longsor yang melanda Nagari Balingka, Kecamatan Ampek Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengganggu aktivitas pendidikan di MTsN 3 Agam.
Pada hari kedua proses belajar-mengajar, Selasa, 6 Januari 2026, sebanyak 31 siswa tercatat tidak masuk sekolah akibat dampak langsung bencana, mulai dari kerusakan rumah hingga terputusnya akses jalan dan jembatan menuju sekolah.
MTsN 3 Agam memiliki total 556 siswa. Sebanyak 96 siswa di antaranya berasal dari wilayah Balingka, Malalak, dan Sungai Landia, kawasan yang terdampak paling parah oleh banjir bandang dan longsor.
Wakil Kepala Bidang Sarana dan Prasarana MTsN 3 Agam, Madiar, menyebutkan bahwa tujuh siswa mengalami kerusakan rumah kategori berat, sementara 25 siswa lainnya terdampak kerusakan rumah kategori sedang.
Selain menyebabkan siswa kesulitan berangkat ke sekolah, bencana juga merusak lingkungan dan fasilitas MTsN 3 Agam. Arus banjir menggerus halaman sekolah, merusak pagar, serta memutus salah satu akses jalan utama yang terhubung langsung dengan pintu masuk sekolah. Kondisi tersebut dinilai membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Wali Nagari Balingka, Aljumpati Agus, mengatakan banjir bandang memutus jalur penghubung antara Jorong Pahambatan dan Balingka yang selama ini menjadi akses utama menuju MTsN 3 Agam.
“Jembatan yang terputus itu langsung terkoneksi dengan halaman dan pintu masuk sekolah. Untuk sementara kami membuat jalan darurat, namun kondisi halaman sekolah sudah rusak parah dan ini sangat mengkhawatirkan jika tidak segera diperbaiki,” ujarnya.
Ia menambahkan, dampak bencana juga mengisolir dua sekolah dasar, yakni SDN 20 Pahambatan dan SDN 07 Balingka. Siswa dan guru terpaksa melintasi jembatan darurat dengan berjalan kaki karena jalur tersebut tidak dapat dilewati sepeda motor maupun kendaraan lainnya. Keterbatasan akses ini membuat aktivitas belajar mengajar berlangsung dengan risiko dan keterbatasan keselamatan.
Hingga saat ini, pihak nagari dan sekolah berharap adanya penanganan cepat dari pemerintah daerah untuk memperbaiki akses jalan, jembatan, serta fasilitas sekolah yang rusak, agar proses pendidikan dapat kembali berjalan normal dan aman bagi siswa. (Rita Yondriadi)