Banjir Bandang dan Longsor Purbalingga, Penanganan Darurat Berpacu dengan Cuaca Ekstrem
Spektroom – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah lereng Gunung Slamet, Kabupaten Purbalingga, meninggalkan kondisi lapangan yang memprihatinkan. Hingga Senin (26/1/2026), hujan masih terus turun dan menyulitkan proses penanganan serta distribusi bantuan bagi warga terdampak.
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif mengatakan, bencana terjadi sejak Sabtu malam hingga minggu dini hari 24-25 Januari 2026, akibat curah hujan ekstrem di kawasan pegunungan.
Material lumpur, kayu, dan batu dari area hutan terbawa deras dan menerjang permukiman warga di beberapa desa.
“Banjir bandang akibat curah hujan yang sangat lebat di kawasan pegunungan dan disertai longsor di empat titik wilayah Gunung Slamet,” ujar Fahmi.
Fahmi menyebutkan, desa terdampak meliputi Desa Serang, Desa Sangkanayu, Desa Kutabawa, dan Desa Bambangan, termasuk jalur pendakian Gunung Slamet. Di Desa Serang, terdapat lima titik bencana dengan jembatan rusak, akses jalan terputus, dan puluhan rumah tertimbun lumpur.
“Beberapa akses jalan yang putus merupakan satu-satunya jalur warga, sehingga tidak ada akses alternatif,” katanya.
Di Desa Bambangan, dua jembatan dilaporkan putus dan satu rumah warga terbawa arus banjir. Sementara itu, jalur utama penghubung kawasan pariwisata di Desa Serang masih dalam pengecekan apakah aman dilalui atau tidak.
Bencana ini juga menelan korban jiwa. Satu warga Desa Serang meninggal dunia setelah terseret banjir bandang meski sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Kondisi lebih parah dilaporkan terjadi di Desa Sangkanayu dengan tujuh rumah hanyut, dua mobil dan tujuh sepeda motor terseret arus, serta puluhan hewan ternak hilang.
Material kayu dan batu berukuran besar masih menutup sebagian wilayah permukiman.
Pemerintah daerah bersama BPBD, Dinas Sosial, Damkar, TNI-Polri, PMI, Baznas, dan relawan terus melakukan penanganan darurat secara bertahap. Dapur umum telah didirikan, sementara kebutuhan logistik terus disalurkan ke lokasi terdampak.

“Kami sudah menyiapkan dapur umum serta kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan selimut karena wilayah ini merupakan dataran tinggi,” jelas Fahmi.
Namun demikian, keterbatasan alat berat menjadi kendala utama karena harus digunakan secara bergantian di banyak titik bencana. Selain itu, pasokan air bersih dan listrik masih terputus, sementara akses komunikasi juga terganggu.
Tri Setiati Rokhana spd, ditemui Spektroom saat menyalurkan 2 tangki air bersih, mengaku kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Intensitas hujan yang masih tinggi membuat warga dan relawan bekerja dalam situasi penuh risiko.
“Kondisinya sangat memprihatinkan dan mencekam karena hujan masih terus turun. Warga pengungsi dan relawan masih sangat membutuhkan bantuan, terutama air bersih dan logistik,” kata Tri.
Menurut Tri, distribusi air bersih menjadi kebutuhan mendesak karena banyak sumber air warga rusak atau tertutup lumpur. Selain pengungsi, relawan di lapangan juga membutuhkan dukungan logistik untuk menjaga stamina selama proses evakuasi dan pembersihan.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga memastikan penanganan bencana akan terus dilakukan hingga seluruh wilayah terdampak tertangani. Koordinasi lintas instansi dan dukungan masyarakat luas diharapkan dapat mempercepat pemulihan pascabencana.