Banyumas Siaga Dampak El Nino 21 Desa dan Dua Fasilitas Umum Terdampak Kekeringan

Banyumas Siaga Dampak El Nino 21 Desa dan Dua Fasilitas Umum Terdampak Kekeringan
Dropping air bersih bantuan pemerintah kabupaten Banyumas, warga siapkan bak penampungan. (Foto : BPBD kabupaten Banyumas).

Banyumas–Spektroom : Fenomena El Nino kuat yang memicu musim kemarau panjang mulai memberikan dampak nyata di Kabupaten Banyumas.

Selain meningkatkan ancaman krisis air bersih, kondisi ini juga memicu kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta berkurangnya pasokan air untuk sektor pertanian.

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan, hingga Rabu (29/7/2026), sebanyak 21 desa dan dua fasilitas umum telah terdampak kekeringan sehingga membutuhkan bantuan air bersih dari pemerintah.

"Hingga hari ini sudah ada 21 desa dan dua fasilitas umum yang mendapat suplai air bersih," ujar Sadewo saat ditemui Spektroom.

Menurutnya, distribusi air bersih yang dilakukan melalui BPBD Banyumas telah menjangkau 5.372 kepala keluarga atau sekitar 17.826 jiwa. Total air bersih yang telah disalurkan mencapai 112 ritase pengiriman dengan volume sekitar 558 ribu liter.

Sadewo menjelaskan, langkah yang saat ini terus dilakukan pemerintah daerah adalah memastikan pasokan air bersih tetap tersedia bagi masyarakat melalui distribusi menggunakan mobil tangki.

Warga diminta menyiapkan tempat penampungan, sementara pengiriman air dilakukan secara terpadu oleh BPBD, PDAM, serta dukungan berbagai pihak.

"Yang bisa kami lakukan sekarang adalah menyiapkan bantuan air dengan mobil tangki. Warga menyiapkan penampungan, kemudian kami mengirimkan air melalui BPBD, PDAM, termasuk bantuan dari berbagai pihak," katanya.

Untuk solusi jangka panjang, Pemkab Banyumas berencana membangun sumur di wilayah yang setiap tahun mengalami kesulitan air. Namun, keterbatasan anggaran membuat pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap.

Meski demikian, Sadewo mengungkapkan Banyumas memperoleh alokasi dana APBN sebesar Rp216 miliar pada perubahan anggaran tahun 2026 yang akan difokuskan untuk pembangunan jaringan irigasi.

Lahan pertanian diwilayah selatan Banyumas mulai kekurangan air. (Foto : Bian Pamungkas).

Di sektor pertanian, Sadewo mengakui ancaman gagal panen (puso) tetap menjadi perhatian. Namun, menurutnya kondisi tersebut hampir selalu terjadi setiap musim kemarau, sementara perlindungan melalui asuransi pertanian masih menghadapi kendala karena tidak semua lahan dapat diasuransikan akibat dinilai berisiko tinggi.

Sementara itu, terkait ketersediaan bahan pangan, Sadewo memastikan stok beras di Banyumas masih aman sehingga belum ada rencana pelaksanaan operasi pasar. Bahkan, Pemkab Banyumas bersama Perum BULOG tengah membahas pembangunan Rice Milling Unit (RMU) modern di Banyumas untuk meningkatkan kualitas pengolahan beras sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Berita terkait