BATAFA 2026 Digelar 27–28 Agustus, Talawi Hilie Perkuat Gerakan Pelestarian Adat dan Budaya
Sawahlunto-Spektroom : Desa Talawi Hilie, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, kembali menggelar Budaya Adat Talawi Festival (BATAFA) 2026 pada 27–28 Agustus 2026. Memasuki tahun kedua pelaksanaan, festival ini diarahkan bukan sekadar menjadi agenda hiburan, tetapi ruang bersama untuk merawat adat, memperkuat identitas budaya, sekaligus melibatkan generasi muda dalam pelestarian warisan leluhur.
BATAFA 2026 juga dirangkai dengan Pengukuhan Pengurus Kerapatan Adat Nagari (KAN) Talawi periode 2026–2031. Dua agenda tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat kembali kelembagaan adat di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman.
Kepala Desa Talawi Hilie, Pausil Misbah, mengatakan BATAFA diharapkan terus berkembang sebagai ruang kebersamaan masyarakat sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan adat dan budaya Talawi kepada generasi muda.
“BATAFA bukan hanya kegiatan festival, tetapi bagian dari ikhtiar kita bersama untuk menjaga adat dan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat. Generasi muda harus diberi ruang untuk mengenal, mencintai, dan ikut melestarikan warisan leluhur,” kata Pausil Misbah kepada Spektroom, Senin (24/8/2026)
Menurut dia, keberlanjutan kegiatan budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah desa, tokoh adat, pemuda, masyarakat, serta berbagai unsur lainnya memiliki peran dalam memastikan tradisi tidak berhenti sebagai simbol seremonial.
Pelaksanaan BATAFA 2026 sekaligus menjadi momentum memperkuat silaturahmi masyarakat Talawi. Nilai-nilai kebersamaan yang melekat dalam adat Minangkabau dinilai relevan untuk terus dirawat, terutama ketika masyarakat menghadapi perubahan pola hidup akibat perkembangan teknologi dan budaya digital.
Selain mempertahankan tradisi, festival budaya juga memiliki potensi menjadi instrumen promosi daerah. Talawi memiliki kekayaan sejarah, seni, tradisi, dan ekspresi budaya yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata berbasis masyarakat.
Namun, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui pertunjukan. Tantangan terbesarnya adalah memastikan pengetahuan adat, nilai-nilai sosial, kesenian, serta tradisi dapat diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, pengukuhan kepengurusan KAN Talawi periode 2026–2031 menjadi bagian strategis dari agenda tersebut. Kelembagaan adat diharapkan mampu terus berfungsi sebagai ruang musyawarah, pembinaan nilai adat, serta penjaga keberlanjutan tradisi di tengah masyarakat.
BATAFA 2026 akan dipusatkan di Talawi Hilie pada 27–28 Agustus 2026. Masyarakat diajak berpartisipasi dan meramaikan kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian adat dan budaya lokal.
Memasuki tahun kedua, tantangan BATAFA bukan sekadar membuat festival lebih meriah, melainkan menjadikannya semakin bermakna. Ukuran keberhasilannya pada akhirnya bukan hanya jumlah pengunjung atau kemeriahan panggung, tetapi sejauh mana festival mampu membuat adat dan budaya tetap dipahami, dipraktikkan, serta diwariskan kepada generasi muda. (Ris1)