Batik Lumajang Tampil dengan Gaya yang Lebih Modern
Lumajang-Spektroom : Baju batik tidak sekadar baju untuk menutupi badan, tetapi ia tampil mengusung seni. Berbagai daerah tampil dengan corak batik yang berbeda, dan nyaris memberi tanda khas bagi daerahnya, bahkan coraknya berkembang ke arah yang lebih trendy.
Batik Lumajang misalnya, tidak hanya hadir sebagai warisan budaya, tetapi mulai didorong menjadi bagian dari industri fesyen yang memiliki nilai tambah. Hal itu terlihat saat empat model membawa karya berbasis Batik Rangsang dalam gelaran Batik in Motion 2026 di Kota Probolinggo, 4–6 September 2026.
Batik Rangsang dipadukan dengan rancangan busana dari NK Haute Couture. Perpaduan motif lokal dan desain kontemporer tersebut menjadi ruang bagi Lumajang untuk memperkenalkan karakter batiknya sekaligus menunjukkan potensi produk daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, mengatakan keikutsertaan Lumajang menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi batik dan ekonomi kreatif daerah melalui karya yang kreatif dan berkarakter.
“Batik Lumajang punya karakter sendiri. Yang ingin kami dorong adalah bagaimana karakter itu tetap terlihat, tetapi bisa dikemas dengan cara yang lebih kreatif dan mengikuti perkembangan fesyen,” ujarnya, dikutip dari laman Pemkab Lumajang, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Dewi, batik memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya sebagai kain atau busana tradisional, tetapi juga menjadi produk fesyen yang memiliki nilai tambah.
“Batik bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi juga harus terus digunakan dan dikembangkan. Dengan begitu, perajin dan pelaku usaha juga memiliki peluang untuk tumbuh,” katanya.
Dalam gelaran tersebut, empat model tampil mengenakan karya berbasis Batik Rangsang dengan sentuhan rancangan NK Haute Couture. Kehadiran tersebut memperlihatkan bagaimana identitas lokal dapat dipertemukan dengan desain fesyen modern tanpa menghilangkan karakter batiknya.
Bagi perajin dan pelaku UMKM, pendekatan tersebut membuka ruang promosi yang lebih luas. Produk yang selama ini berkembang di daerah memiliki kesempatan untuk dikenal oleh masyarakat dari luar Lumajang sekaligus diperkenalkan kepada pelaku industri kreatif lainnya.
“Harapannya bukan hanya tampil di panggung. Setelah kegiatan ini, jejaringnya bisa terus berjalan dan membuka kolaborasi baru,” ujar Dewi.
Karena itu, Batik in Motion 2026 juga menjadi ruang pertemuan bagi pelaku batik, fesyen, UMKM, dan ekonomi kreatif dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kolaborasi lintas daerah diharapkan dapat membuka peluang pertukaran gagasan, pengembangan desain, promosi bersama, hingga kerja sama yang dapat memberi manfaat lebih panjang bagi pelaku usaha.
Dewi menilai pelestarian dan pengembangan ekonomi batik perlu berjalan beriringan. Inovasi desain, peningkatan kualitas, kemampuan perajin, serta promosi menjadi bagian penting agar produk lokal mampu bertahan dan berkembang.
“Kami ingin batik tetap punya identitas, tetapi juga bisa mengikuti zaman. Jadi budaya tetap terjaga, sementara nilai ekonominya juga bisa berkembang,” tuturnya.
Dewi berharap sinergi Dekranasda kabupaten dan kota se-Jawa Timur terus diperkuat, terutama dalam pelestarian budaya, pengembangan industri batik, dan promosi produk UMKM.
Menurutnya, kegiatan seperti Batik in Motion dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan potensi daerah yang berbeda sehingga masing-masing dapat saling memperkuat. (Sumber: Diskominfo Lumajang)