Belajar dari Jabatan: Ustaz Istiqlal Assaad Ajak Umat Perbaiki Diri Sebelum Memimpin Orang Lain
Makassar- Spektroom : Jabatan seharusnya menjadi sarana untuk mengabdi, bukan tujuan yang dikejar dengan mengorbankan persaudaraan. Pesan itulah yang disampaikan Ustaz Dr. A. Istiqlal Assaad, S.H., M.H., dalam kultum ba'dah Salat Zuhur di Masjid Pascasarjana UMI Makassar, Rabu (17/6/2026).
Dalam tausiyahnya, Istiqlal Assaad mengajak jamaah untuk menjadikan etika, ilmu, dan kesiapan menerima nasihat sebagai bekal utama sebelum memikul amanah kepemimpinan.
Menurutnya, banyak konflik yang terjadi dalam perebutan jabatan berawal dari keinginan untuk dihormati tanpa terlebih dahulu membangun kapasitas dan memperbaiki akhlak diri.
"Jabatan adalah amanah yang berat. Karena itu, seseorang harus terlebih dahulu mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain," ujarnya.
Sekretaris Program Studi Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana UMI Makassar tersebut menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah jabatan yang dimiliki, melainkan ketakwaan dan kualitas akhlaknya.
Ia mengingatkan bahwa jabatan yang diperoleh tanpa kesiapan moral dan intelektual berpotensi menjadi beban yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan sebuah pesan sederhana namun sarat makna, yakni "Ajari aku beretika, beri aku ilmu, dan tegurlah diriku agar menjadi lebih baik."
Menurutnya, kalimat tersebut dapat menjadi pedoman bagi siapa saja yang ingin bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dan bijaksana. Etika mengajarkan cara menghargai orang lain, ilmu menuntun pada kebijaksanaan, sedangkan teguran membantu seseorang melihat kekurangan yang perlu diperbaiki.
Istiqlal Assaad menjelaskan bahwa orang yang memiliki etika tidak akan menghalalkan segala cara demi memperoleh kedudukan. Sebaliknya, ia akan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan menghormati proses yang berlaku.
Sementara itu, ilmu akan membentuk sikap rendah hati. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar kesadarannya bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari. Sikap inilah yang membuat seseorang lebih fokus meningkatkan kualitas diri daripada sibuk membandingkan diri dengan orang lain.
Ia juga menekankan pentingnya menerima kritik dan nasihat dengan lapang dada. Menurutnya, teguran yang disampaikan dengan niat baik merupakan cermin yang membantu seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.
"Kadang-kadang kegagalan mendapatkan jabatan bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan kesempatan yang diberikan Allah SWT agar kita memperbaiki diri terlebih dahulu," tuturnya.
Di akhir ceramah, Istiqlal Assaad mengajak jamaah untuk mengubah cara pandang terhadap jabatan. Bukan sebagai simbol kebesaran, melainkan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
Ia berharap masyarakat lebih fokus membangun karakter, memperluas ilmu pengetahuan, dan menjaga hubungan baik dengan sesama. Sebab pada akhirnya, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh tingginya jabatan yang diraih, melainkan oleh ketakwaan dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.