Bendungan Rukoh Kurangi Risiko Bencana Banjir Sekaligus Dukung Ketahanan Pangan Kabupaten Pidie
Jakarta – Kehadiran Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, tidak hanya menjadi infrastruktur penyedia air untuk pertanian, tetapi juga memperkuat perlindungan masyarakat dari risiko bencana hidrometeorologi, khususnya banjir yang selama ini kerap melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pidie.
Bendungan yang telah diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (10/7/2026) tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah membangun infrastruktur sumber daya air yang mampu meningkatkan ketahanan wilayah terhadap perubahan iklim sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, pembangunan bendungan pada dasarnya merupakan investasi jangka panjang untuk mengelola air agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, mulai dari penyediaan air irigasi, air baku, energi, hingga perlindungan terhadap kawasan hilir dari ancaman banjir.
"Betapa pentingnya pekerjaan mengelola air. Air yang tertampung di bendungan harus menjadi irigasi bagi sawah, air baku bagi masyarakat, energi yang dapat dikembangkan, dan perlindungan bagi kawasan hilir," kata Menteri Dody dalam siaran persnya, Jumat (17/7/2026)
Dengan kapasitas tampung cukup besar, yakni 128,65 juta meter kubik dan luas genangan sekitar 687 hektare, Bendungan Rukoh diproyeksikan sebagai infrastruktur mitigasi bencana. Kabupaten Pidie merupakan salah satu wilayah di Aceh yang dalam beberapa tahun terakhir beberapa kali terdampak bencana hidrometeorologi akibat tingginya intensitas hujan yang memicu luapan sungai dan genangan di kawasan permukiman maupun lahan pertanian.
Bendungan Rukoh memiliki fungsi reduksi banjir seluas 51 hektare dan dirancang untuk membantu pengendalian banjir hingga periode ulang 50 tahunan di Kabupaten Pidie.
Selain itu, bendungan yang berada di aliran Sungai Krueng Rukoh dan memperoleh suplai air dari Bendung Pengarah Sungai Krueng Inong ini juga memiliki manfaat utama untuk mengairi Daerah Irigasi Baro Raya seluas 12.194 hektare, terutama di Kecamatan Keumala dan Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie.
Menteri Dody mengatakan, keberadaan bendungan menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem irigasi yang andal. Dengan ketersediaan air yang terjamin sepanjang tahun, produktivitas pertanian dapat terus ditingkatkan.
"Bendungan kita sebut sebagai irigasi premium, yaitu irigasi yang ketersediaan airnya dijamin oleh bendungan. Jadi kalau ada bendungan dan ada sistem irigasinya, kita bisa mengharapkan tiga kali musim tanam," ujar Menteri Dody.
Selanjutnya Bendungan Rukoh juga mampu menyediakan air baku sebesar 900 liter per detik yang dapat melayani sekitar 22.848 jiwa di Kecamatan Titeue dan wilayah sekitarnya. Bendungan ini juga memiliki potensi pengembangan energi baru terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 140 MW serta Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebesar 1,22 MW.
Bendungan Rukoh dibangun secara bertahap pada periode 2018–2024 dengan total anggaran sekitar Rp1,7 triliun. Dengan fungsi yang mencakup penyediaan air, peningkatan produktivitas pertanian, pengendalian banjir, hingga pengembangan energi terbarukan,