Berburu Takjil di Jayapura, Ramadan yang Menghangatkan Harmoni Papua

Berburu Takjil di Jayapura, Ramadan yang Menghangatkan Harmoni Papua
Di antara deretan takjil nasional terselip takjil khas Papua yang menjadi daya tarik, kue lontar dengan berbagai kemasan, bubur sagu yang lembut, serta ubi jalar ungu yang diolah sederhana namun menggugah selera. (Foto: Toni Teniwot/Spektroom)

Spektroom – Senja di kawasan Hamadi, Jayapura, Sabtu (21/2/2026), menghadirkan pemandangan yang tak pernah absen setiap Ramadan: warga berjejal di lapak-lapak sederhana, berburu takjil untuk berbuka puasa.

Aroma gorengan yang mengepul bercampur manisnya kolak pisang dan segarnya es buah, menyatu dengan semilir angin pesisir.

Berburu takjil telah menjadi tradisi tahunan masyarakat di berbagai daerah Indonesia.

Aktivitas ini merujuk pada kebiasaan mencari minuman dan makanan ringan sebagai hidangan pembuka puasa.

Dari korma, bubur sumsum, kolak pisang, hingga aneka kue tradisional, semuanya menjadi primadona jelang azan Magrib.

Namun di Tanah Papua, tradisi itu memiliki warna tersendiri.

Di antara deretan menu nasional, terselip takjil khas Papua yang menjadi daya tarik: kue lontar dengan berbagai kemasan, bubur sagu yang lembut, serta ubi jalar ungu yang diolah sederhana namun menggugah selera.

Perpaduan ini menjadikan suasana berburu takjil di Jayapura terasa unik—mengawinkan cita rasa Nusantara dan kearifan lokal.

“Pembelinya bukan hanya umat Muslim, tapi juga warga non-Muslim,” ujar Aisyah, salah satu penjual takjil di Hamadi, saat ditemui Spektroom.

Aisyah mengaku setiap Ramadan lapaknya selalu ramai. Meski tak merinci berapa penghasilan per hari yang diraup, ia memastikan hasil berjualan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Baginya, yang terpenting bukan semata angka.

“Yang penting bisa berbagi rasa. Baik dengan sesama umat Islam yang berpuasa maupun warga lain yang datang membeli,” tuturnya.

Fenomena ini menjadi potret harmoni sosial yang terjalin di Jayapura.

Di tengah keberagaman agama dan latar belakang, tradisi berburu takjil justru menjadi ruang perjumpaan yang cair.

Warga saling menyapa, berbagi cerita, bahkan sekadar bertukar senyum sambil menunggu waktu berbuka.

Kue lontar dan bubur sagu bukan sekadar makanan. Keduanya menjadi simbol identitas lokal yang hadir dalam momentum spiritual umat Islam.

Sementara gorengan dan kolak menjadi jembatan rasa yang menyatukan lidah berbagai kalangan.

Setiap sore Ramadan, kawasan Hamadi berubah menjadi ruang publik yang hidup.

Anak-anak menggenggam plastik berisi es campur, orang tua menenteng kotak kue lontar, dan pedagang sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.

Di Papua, berburu takjil bukan hanya soal makanan pembuka puasa.

Ia adalah simbol persaudaraan dan persatuan yang telah lama tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di tengah dinamika sosial yang kerap menguji kebersamaan, Ramadan kembali menegaskan satu hal: harmoni bisa dimulai dari hal sederhana—seporsi takjil dan senyum yang tulus.

(Feature oleh: Toni Teniwot/Jayapura)

Berita terkait

DKPPP Jember Lindungi Ternak Dari Wabah, Optimalkan Produksi Telur

DKPPP Jember Lindungi Ternak Dari Wabah, Optimalkan Produksi Telur

Spektroom - Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Jember melakukan langkah konkret dalam mengawal keberhasilan program bantuan peternakan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi komprehensif. Kegiatan yang berlokasi di kandang penerima manfaat Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari ini merupakan sinergi antara bidang peternakan DKP3 dengan UPTD Laboratorium Kesehatan Hewan, Kesmavet,

Budi Sucahyono, Rafles