BPBD Banyumas Berpacu dengan Kemarau, Setetes Air Menjadi Harapan Ribuan Warga
Banyumas – Spektroom
Di tengah kemarau yang kian mengeringkan sumur-sumur warga, deru truk tangki milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas menjadi suara yang paling dinanti.
Bagi ribuan warga di desa-desa terdampak, kedatangan truk itu bukan sekadar membawa air, tetapi juga membawa harapan agar kehidupan tetap berjalan.
Setiap beberapa hari sekali, truk tangki menyusuri jalan-jalan perdesaan menuju wilayah yang mulai kehabisan sumber air bersih.
Warga telah menyiapkan ember, jeriken, hingga bak penampungan sejak pagi. Mereka mengantre dengan tertib, menunggu giliran mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Banyumas, Abdul Lajis, Sabtu (25/7/2026), mengatakan hingga saat ini jumlah wilayah terdampak terus bertambah. Sebanyak 19 desa dan dua fasilitas umum telah mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Hingga Sabtu, BPBD telah menyalurkan 85 ritase atau sekitar 423 ribu liter air bersih. Bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan 4.852 kepala keluarga atau sekitar 15.692 jiwa yang terdampak kekeringan.
Wilayah dengan kebutuhan air bersih terbanyak berada di Kecamatan Cilongok, meliputi Desa Rancamaya, Panusupan, Sudimara, Cipete, dan Langgongsari.
Sementara di Kecamatan Karanglewas, distribusi dilakukan ke Desa Tamansari, Pasir Lor, dan Kediri. Penyaluran dilakukan setiap tiga hari sekali dengan jumlah tangki yang disesuaikan kebutuhan masing-masing desa.
Di balik setiap perjalanan truk tangki, terdapat upaya tanpa henti dari petugas BPBD yang memastikan air bersih sampai kepada masyarakat. Distribusi didukung tiga truk tangki milik BPBD Banyumas dan satu truk bantuan dari BPBD Provinsi Jawa Tengah.
Untuk penanganan kekeringan tahun ini, BPBD mengalokasikan anggaran sekitar Rp179 juta.
Menurut Abdul Lajis, musim kemarau tahun ini terasa lebih berat akibat pengaruh fenomena El Nino yang menurunkan curah hujan secara drastis. Dampaknya tidak hanya mengancam ketersediaan air bersih, tetapi juga mulai dirasakan sektor pertanian yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
"Kami berharap masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan dan menggunakan air secara hemat. Peran media juga sangat penting untuk menyampaikan edukasi agar kita bisa menjaga sumber daya air yang semakin terbatas selama musim kemarau," ujarnya.
Selama hujan belum kembali turun, setiap tetes air yang tiba melalui truk tangki menjadi penanda bahwa di tengah kemarau panjang, kepedulian dan gotong royong masih terus mengalir untuk warga Banyumas.