BRIN Kembangkan Alat Deteksi Tsunami Murah dan Realtime
Pusat Riset Kebencanaan (PRKG)
Jakarta - Spektroom : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) menyebut gempa bumi berkekuatan M 7,6 yang mengguncang Maluku Utara baru-baru ini, menjadi pengingat kembali tingginya aktivitas seismik di wilayah timur Indonesia.
“Sesuai dengan rilis resmi yang dikeluarkan oleh BMKG sebagai otoritas peringatan dini tsunami di Indonesia, gempa bumi yang terjadi di Maluku Utara itu adalah gempa akibat sesar naik dengan kekuatan sekitar 7,6 magnitudo dan berpotensi men-trigger tsunami,” ujar Semeidi Husrin, Peneliti PRKG BRIN, saat diwawancarai, Senin (06/04/2026).
Peneliti PRKG BRIN, Semeidi Husrin menjelaskan tsunami memang sudah tercatat di beberapa lokasi di sekitar episenter, meskipun ketinggiannya bervariasi dan sebagian besar kurang dari 1 meter. Namun, sejarah mencatat di lokasi yang sama pada abad ke-19 pernah terjadi gempa besar yang memicu tsunami setinggi 15 meter.
Untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami nasional (InaTEWS) yang dimiliki BMKG, BRIN bersama mitra nasional dan internasional mengembangkan alat bernama PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut). Berbeda dengan sistem konvensional yang mengandalkan pemodelan gempa, PUMMA langsung mencatat dinamika muka air laut secara real time.
Alat ini sangat cocok untuk kondisi geografis Indonesia, terutama di bagian timur yang terdiri dari banyak pulau kecil yang berperan sebagai "natural offshore bouys". PUMMA dapat dipasang di pesisir yang dekat dengan sumber bencana. Untuk kasus Maluku Utara, alat ini bisa dipasang di dua pulau kecil terdekat dari episenter, yakni Pulau Maju dan Pulau Batang Dua.
PUMMA sudah beroperasional selama 6 tahun di Selat Sunda dan kini memasuki tahun ke-7. Alat yang dipasang di Pulau Rakata, kompleks Gunung Api Anak Krakatau, menjadi satu-satunya sistem monitoring peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda dan di Indonesia saat ini.
Selain dukungan penuh dari BMKG, keberadaan PUMMA (secara internasional dikenal dengan IDSL, (Inexpensive Device for Sea Level measurement) di Krakatau juga didukung oleh banyak pihak seperti BAKTI Kominfo, PT Telkomsel, BNPB, UNILA, Balawista, IATSI, Kemenhub, PVMBG, KKP dan Pemerintah Daerah setempat, serta dari mitra internasional, Joint Research Centre - the European Commision.
Menurut Semeidi tsunami tidak hanya disebabkan oleh gempa bumi, tetapi juga oleh aktivitas gunung api dan longsor bawah laut. Peristiwa tsunami Palu 2018 dan Selat Sunda 2018 menjadi bukti sensor gempa bumi saja tidak cukup.
Ia mengingatkan ribuan nyawa melayang saat tsunami Palu dan Selat Sunda karena sistem InaTEWS BMKG tidak didesain untuk kejadian non-gempa. Oleh sebab itu, BRIN mengintensifkan implementasi PUMMA untuk memperkuat sistem peringatan dini existing.