Bukan Sekadar Baca Buku, Sawahlunto Bekali 250 Agen Literasi untuk Melawan Hoaks
Sawahlunto-Spektroom: Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, memperkuat kapasitas guru, pustakawan, pengelola perpustakaan dan pegiat literasi untuk menghadapi derasnya arus informasi digital. Sebanyak 250 peserta disiapkan mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi Tahun 2026 yang digelar dalam enam gelombang.
Bimtek gelombang pertama dibuka Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sawahlunto Afrizon pada Selasa, 15 September 2026. Program tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan pengelolaan perpustakaan, tetapi juga membentuk peserta sebagai agen literasi di sekolah, nagari, desa/kelurahan dan komunitas.
Afrizon mengatakan kemampuan literasi informasi menjadi semakin penting ketika masyarakat berhadapan dengan banjir informasi melalui berbagai platform digital. Karena itu, peserta diharapkan mampu membantu masyarakat memilah informasi sekaligus mencegah penyebaran hoaks di lingkungannya.
“Bimtek ini sebagai upaya peningkatan kompetensi bagi guru, pengelola perpustakaan dan pegiat literasi se-Kota Sawahlunto,” ujar Afrizon.
Selain meningkatkan kompetensi, kegiatan tersebut ditujukan untuk memperluas pemanfaatan layanan perpustakaan, baik fisik maupun digital. Peserta juga didorong menghasilkan konten-konten literasi lokal yang bersumber dari pengetahuan dan potensi daerah.
Program itu melibatkan pengelola perpustakaan sekolah, pengelola perpustakaan desa/kelurahan, guru, Bunda Literasi Desa/Kelurahan serta pegiat literasi. Pelaksanaannya mendapat dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Rangkaian kegiatan berlanjut pada Bimtek gelombang II, Rabu (16/9/2026) yang diikuti 50 pustakawan, guru dan pegiat literasi di Perpustakaan Umum Adinegoro Sawahlunto.
Gelombang kedua dibuka Kepala Bidang Penyelenggaraan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sawahlunto, Debbie Hallen. Dua akademisi ilmu perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang dihadirkan sebagai narasumber, yakni Dr. Dian Hasfera, M.I.Kom dan Muhammad Fadli, M.I.Kom.
Debbie mengatakan tujuan kegiatan pada gelombang kedua pada dasarnya melanjutkan sasaran utama program, yakni meningkatkan kompetensi peserta agar mampu menjadi agen literasi di sekolah, nagari dan komunitas.
Menurut dia, penguatan kapasitas juga diharapkan meningkatkan pemanfaatan layanan perpustakaan digital dan fisik serta membantu mengurangi penyebaran hoaks.
Peserta, kata Debbie, juga didorong memproduksi konten literasi lokal yang dapat memperkaya sumber informasi masyarakat.
Di tengah perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi, tantangan literasi kini tidak berhenti pada kemampuan membaca. Kemampuan menemukan sumber yang kredibel, memeriksa informasi, memahami konteks dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi menjadi bagian penting dari literasi informasi.
Karena itu, keberadaan guru, pustakawan dan pegiat literasi menjadi strategis. Mereka bukan hanya pengguna layanan perpustakaan, tetapi juga dapat menjadi penghubung pengetahuan dengan masyarakat.
Melalui enam gelombang pelatihan tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sawahlunto menempatkan penguatan kompetensi sumber daya manusia sebagai salah satu instrumen untuk membangun budaya literasi yang berkelanjutan.
Program ini sekaligus diarahkan untuk mendukung Gerakan Literasi Nasional dan pembelajaran sepanjang hayat, dengan perpustakaan sebagai salah satu ruang penting bagi masyarakat untuk memperoleh, mengolah dan memanfaatkan pengetahuan secara bertanggung jawab. (Ris1)