Bupati Situbondo: Bencana Alam Berdampak Signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Situbondo-Spektroom : Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyampaikan, bahwa pertumbuhan ekonomi Situbondo sepanjang 2025 sebenarnya masih berada di atas rata-rata nasional, namun sedikit di bawah pertumbuhan Provinsi Jawa Timur. Hal itu dikatakan Bupati Rio saat menyoroti dampak bencana terhadap pertumbuhan ekonomi daerah ketika membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kabupaten Situbondo Tahun 2027 di Aula Pendopo Rakyat, Kamis (13/3/2026).
"Di kuartal pertama pertumbuhan ekonomi kita 4,4 persen, kuartal kedua 5,85 persen, kuartal ketiga 6,16 persen, dan kuartal keempat turun menjadi 4,93 persen. Secara rata-rata year on year pertumbuhan ekonomi Situbondo berada di angka 5,28 persen. Itu masih di atas pertumbuhan nasional, tetapi sedikit di bawah provinsi," kata Bupati Rio.
Menurutnya, sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Situbondo. Namun sektor tersebut memiliki sejumlah persoalan struktural, mulai dari ketidakpastian pekerjaan hingga rendahnya nilai tambah produk pertanian.
"Kalau kita buka dokumennya, penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Situbondo itu adalah pertanian. Tetapi ada beberapa isu, seperti ketidakpastian pekerjaan secara struktural, rendahnya nilai tambah produk pertanian, dan yang paling utama adalah faktor alam," ujarnya.
Bupati Rio juga menyoroti tingginya kerentanan bencana di Situbondo yang dinilai belum diimbangi dengan kebijakan penganggaran berbasis kebencanaan dari pemerintah pusat.
"Saya sudah menyampaikan di Komisi XI bahwa wilayah seperti Situbondo sangat rentan bencana. Bahkan hampir setiap tahun pasti ada bencana, tetapi kebijakan penganggaran masih dipukul rata," katanya.
Ia mencontohkan bencana yang terjadi pada 21 Januari 2026 yang membutuhkan anggaran rekonstruksi sekitar Rp165 miliar.
"Dengan logika penganggaran, pada 21 Januari 2026 terjadi bencana dengan kebutuhan biaya pasca bencana sekitar Rp165 miliar. Belum lagi bencana berikutnya yang lebih besar. Yang kita bangun setahun bisa habis dalam sekejap karena bencana," ungkapnya.
Akibat bencana tersebut, sejumlah infrastruktur rusak parah, termasuk 12 jembatan yang ambrol serta ratusan hektare lahan pertanian yang gagal panen.
"Bayangkan, 12 jembatan ambrol. Terakhir saya dari Busuntanjung ke Jetis, Besuki. Akses yang tadinya bisa dilalui sekarang tidak bisa. Sekitar 500 hektare sawah juga gagal panen," jelasnya.
Bupati Rio menegaskan bahwa pemerintah daerah sebenarnya telah melakukan upaya mitigasi sejak jauh hari, namun persoalan utama berada pada belum dilakukannya normalisasi sejumlah sungai yang rawan banjir.
"Dari Oktober kami sudah melakukan mitigasi, mengumpulkan SDM, tagana dan dinas terkait. Tetapi normalisasi sungai tidak dilakukan. Dua sungai yang tidak pernah dinormalisasi akhirnya menjadi sumber banjir," katanya.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya sering turun langsung ke lokasi bencana untuk memastikan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.
"Bagi masyarakat, pemerintah belum hadir kalau bupatinya tidak datang langsung. Saya datang ke sana kadang tidak membawa apa-apa, hanya bercanda dengan warga, tapi mereka sudah merasa senang," ujarnya.
Meski demikian, Bupati Rio menegaskan dirinya bukan sosok yang bisa menyelesaikan semua persoalan secara instan.
"Masyarakat kadang menganggap bupati itu seperti Superman atau Doraemon yang punya kantong ajaib. Saya bilang, saya bukan Doraemon," pungkasnya.