Lawan Rasa Takut, Warga Jagakarsa Kini Berani Laporkan Tindakan Kekerasan
Jakarta – Spektroom : Sebuah kegiatan penyuluhan memberikan banyak pengetahuan baru bagi warga. Peserta kegiatan mengaku kini lebih memahami pentingnya melaporkan setiap bentuk kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Sebelumnya, sebagian warga mengaku takut melapor karena khawatir justru menimbulkan masalah baru. Namun, pemahaman yang didapat dari kegiatan tersebut mengubah pandangan mereka.
"Sebelumnya saya merasa takut untuk melapor karena khawatir menimbulkan masalah. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi lebih berani untuk menyampaikan atau melaporkan jika ada tindakan kekerasan di lingkungan kami," ujar Ety warga RW 03 Kelurahan Jagakarsa ketika mengikuti kegiatan Literasi Digital Mengusung tema "Pencegahan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak di Ruang Digital".
Kecamatan Jagakarsa mencatat angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tertinggi di Jakarta Selatan, dengan total 27 kasus sepanjang Semester I Tahun 2026. Merespons kondisi tersebut, Suku Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Sudin Kominfotik) Jakarta Selatan bergerak cepat menggelar kegiatan Literasi Digital di RPTRA Beringin, Jagakarsa, Rabu (29/7/2026).
Kepala Sudin Kominfotik Jakarta Selatan, Netti Herawati, memaparkan data dari Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi DKI Jakarta yang mencatat total 169 kasus kekerasan di Jakarta Selatan pada paruh pertama tahun ini.Netti menyebut, perkembangan teknologi membawa tantangan baru berupa kekerasan berbasis siber.
"Bentuk kekerasan tersebut antara lain penyebaran foto atau video pribadi bermuatan seksual tanpa persetujuan, pelecehan melalui pesan singkat, komentar bernada seksual, hingga praktik penguntitan siber (cyberstalking)," ujar Netti.
Netti mengapresiasi peran penting Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang kini menjadi garda terdepan penanganan kasus. Data menunjukkan, pos pengaduan di RPTRA menjadi saluran yang paling banyak dipercaya warga, dengan total 12 laporan yang masuk.
"Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih tanggap dan tidak ragu mengambil tindakan demi menciptakan lingkungan yang aman dari kekerasan" tutur Netti.