Chinook dari Jepang Akhirnya Terbang di Langit Kalbar, Menjinakkan Api Karhutla
Mempawah-Spektroom : Selama berhari-hari, helikopter raksasa berwarna hijau zaitun itu hanya menjadi pusat perhatian dari kejauhan di Pelabuhan Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Di tengah kabut asap yang menyelimuti langit Kalbar, armada bantuan Jepang helikopter jenis Chinook CH-47 belum juga bisa menjalankan misi yang dinantikan banyak pihak.
Rabu pagi (16/9/2026), penantian itu akhirnya terjawab.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Kalimantan Barat pada 12 September lalu, Chinook milik Jepang melakukan operasi water bombing guna membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah.
Helikopter berbadan besar itu mengangkut air dari kawasan Pelabuhan Kijing sebelum menjatuhkannya ke titik api di Desa Malikian, Kecamatan Mempawah Hilir.
Dari darat, suara baling-baling ganda yang khas terdengar membelah udara.
Bagi sebagian warga, kemunculan Chinook menjadi simbol harapan di tengah musim kemarau panjang yang membawa asap pekat ke berbagai daerah.
Perwakilan Kementerian Pertahanan sekaligus Liaison Officer (LO) Chinook Jepang, Kapten Pnb Dhimas Jati dari Wing Udara 22 Group Dua Heli, mengatakan penerbangan perdana itu dilakukan dalam satu sortie dengan dua kali putaran penyiraman air.
“Untuk hari ini armada bantuan dari negara Jepang telah menerbangkan satu armadanya Chinook jenis CH-47 untuk melakukan satu sortie water bombing dengan dua kali putaran di Desa Malikian, Kabupaten Mempawah,” ujar Dhimas usai mengikuti briefing terpadu penanganan karhutla di Pusdalops BPBD Kalbar, Rabu malam.
Namun, misi perdana tersebut tidak berlangsung dalam kondisi ideal.
Asap yang masih menggantung di udara membuat jarak pandang terbatas.
Padahal, Chinook membutuhkan visibility minimal sekitar 3.000 meter untuk terbang dengan aman. Saat operasi dilakukan, jarak pandang di lokasi hanya berkisar 1.300 meter.
“Meski minimal visibility untuk Chinook CH-47 melakukan penerbangan 3.000 meter, pagi tadi visibility hanya sekitar 1.300 meter, tetapi operasi tetap kami laksanakan untuk membantu pemadaman,” kata Dhimas.
Sejak tiba di Kalbar, cuaca menjadi tantangan utama.
Selama beberapa hari pertama, jarak pandang bahkan berada di bawah 1.000 meter sehingga membuat operasi udara nyaris mustahil dilakukan.
Selain asap, faktor geografis juga menjadi kendala. Pasokan air untuk operasi pemadaman harus diambil dari laut di sekitar Pelabuhan Kijing.
Kondisi itu membuat jangkauan operasi masih terbatas pada wilayah yang relatif dekat dari sumber air.
Meski demikian, hujan yang mulai turun di sejumlah daerah dalam dua hari terakhir membawa optimisme baru.
Jika kondisi cuaca membaik, Chinook akan dipindahkan menggunakan kapal amfibi JS Kunisaki milik Angkatan Laut Bela Diri Jepang menuju Ketapang untuk membantu pemadaman karhutla di kawasan Kendawangan, salah satu wilayah yang masih menjadi perhatian dalam penanganan kebakaran lahan di Kalimantan Barat.
Di tengah kepungan asap yang belum sepenuhnya pergi, terbangnya Chinook di langit Mempawah menjadi lebih dari sekadar operasi pemadaman.
Ia menjadi penanda bahwa upaya melawan api kini mendapat dukungan lintas negara, membawa harapan baru bagi Kalimantan Barat yang sedang berjuang keluar dari musim asap.