Dapur MBG di Landak Mendadak Tutup, Distribusi Makan Bergizi ke Sekolah Terhenti
Landak- Spektroom – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Anik Dingir, Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, mendadak terhenti. Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi pusat produksi makanan bagi siswa, menghentikan operasionalnya sejak 13 April 2026.
Penghentian ini memicu tanda tanya di kalangan orang tua murid. Pasalnya, program MBG di wilayah tersebut baru berjalan sekitar satu bulan dan telah menjadi bagian penting dalam pemenuhan gizi anak-anak sekolah.
Salah satu orang tua murid, Yanti, mengaku terkejut saat mengetahui anaknya tidak lagi menerima makanan dari program tersebut. Ia menyebut informasi itu pertama kali didapat dari anaknya sepulang sekolah.
“Anak saya bilang sekarang tidak dapat MBG lagi. Katanya dapurnya tutup, tapi tidak tahu kenapa. Mungkin ada masalah,” ujar Yanti, Senin (20/04/2026).
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Landak, Yohanes, membenarkan bahwa operasional dapur SPPG di Desa Anik Dingir memang dihentikan sementara.
“Iya benar, untuk sementara operasionalnya dihentikan. Mudah-mudahan dalam satu atau dua minggu ke depan bisa kembali berjalan normal,” kata Yohanes saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, penghentian ini disebabkan oleh dua faktor utama, yakni kekosongan tenaga ahli gizi serta proses administrasi terkait Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang masih berlangsung.
“Untuk saat ini, tenaga ahli gizi di SPPG Anik sedang kosong karena yang sebelumnya mengundurkan diri. Selain itu, kami juga masih menunggu hasil uji sampel makanan. Ini penting untuk memastikan kualitas dan keamanan makanan yang disajikan,” jelasnya.
SLHS sendiri merupakan sertifikat resmi yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan sebagai bukti bahwa dapur penyedia makanan telah memenuhi standar kebersihan dan kelayakan pangan. Sertifikat ini menjadi syarat penting dalam operasional layanan makanan berbasis masyarakat.
“SLHS bertujuan memastikan makanan yang diberikan aman, bergizi, dan higienis,” tambah Yohanes.
Sementara itu, terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Yohanes memastikan tidak ada kendala berarti. Ia menyebut sistem tersebut telah diajukan dan dinyatakan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
Meski bersifat sementara, penghentian ini berdampak langsung pada ratusan siswa penerima manfaat.
Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah cepat agar program MBG dapat kembali berjalan, mengingat perannya yang krusial dalam mendukung kesehatan dan konsentrasi belajar anak-anak di sekolah.