Dari Balik Mikrofon RRI Menuju Kartini Award AMKI Media Indonesia Yang Mendunia
Jakarta– Spektroom : Rabu malam, 29 April 2026, menjadi malam spesial bagi DR. Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si. Di tengah gemerlap panggung Asosiasi Media Konvergensi Indonesia AMKI, namanya disebut sebagai penerima *Kartini Award 2026*. Tepuk tangan panjang mengiringi langkah perempuan kelahiran Yogyakarta, 30 Oktober 1960 itu.
Penghargaan ini terasa pas. Niken bukan sekadar tokoh. Ia adalah jejak hidup tentang bagaimana seorang perempuan bisa memimpin, menggerakkan, dan menjaga kedaulatan bangsa lewat gelombang suara dan layar kaca.
Kisah Niken dimulai bukan dari ruang direksi yang megah, tapi dari studio sederhana RRI Yogyakarta. Lulusan S1 dan S2 FISIPOL UGM ini mengawali karir sebagai penyiar, penulis naskah, hingga pengarah acara. “Saya terinspirasi RA Kartini. Ingin berkontribusi untuk negeri lewat penyiaran,” begitu semangat yang selalu ia bawa.

Dari Jogja, ia pindah ke Cirebon sebagai Kepala LPP-RRI. Karirnya terus menanjak bukan karena koneksi, tapi karena karya. Ia terlibat menyusun Draf RUU Penyiaran 2002 dan mengetuai Tim Penyusunan PP tentang RRI dan TVRI tahun 2005. Regulasi penyiaran Indonesia hari ini, ada tinta pemikiran Niken di dalamnya.
Tahun 2010 jadi tonggak sejarah, dari 74 calon, Dewan Pengawas LPP RRI memilih Niken sebagai Direktur Utama periode 2010-2015. Ia perempuan pertama yang menduduki kursi nomor satu di RRI.
Di tangannya, RRI tidak hanya siaran. Lahir gagasan “Super Team”: mengajak Pemda, LSM, dan organisasi perempuan membangun desa lewat ekonomi kerakyatan. Ia dirikan perwakilan RRI di luar negeri dan studio di perbatasan. “Biar suara Indonesia tetap terdengar, kedaulatan tetap terjaga,” katanya kala itu.

Setelah menjadi Dirut RRI, dipercaya sebagai Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik di Kominfo yang bertugas menangani tata kelola komunikasi publik pemerintah. Selanjutnya niken dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Kominfo. Kemudian dipercaya sebagai Staf Khusus Menteri, dan Widyaiswara Ahli Utama yg memberikan pelatihan kepada para Pejabat Pimpinan Madya baik di K/L ataupun di pemerintah daerah dan kini sebagai Anggota Dewan Pers.
Sejak 2025, ia mengemban amanah sebagai Anggota Dewan Pers 2025-2028 dari unsur masyarakat. Dari mengatur frekuensi, kini ia ikut menjaga marwah pers.
“Dedikasi Ibu di penyiaran publik dan pemberdayaan perempuan itu Kartini banget,” ujar salah satu panitia AMKI usai penyerahan penghargaan tadi malam.
Niken sendiri menanggapinya dengan rendah hati. “Award ini bukan untuk saya pribadi. Ini untuk semua perempuan penyiar, jurnalis, dan pejuang komunikasi di pelosok yang suaranya belum terdengar. Tugas kita masih panjang.”
Dari penyiar, direktur, dirjen, hingga dewan pers. Dari Yogyakarta ke panggung nasional. Rosarita Niken Widiastuti membuktikan: mikrofon kecil bisa menggema sampai ke batas negeri. Dan Kartini Award semalam, jadi penanda bahwa gema itu masih terus berlanjut.