Dari Nira ke Dunia: Kisah Desa Kalisalak Menembus Pasar Ekspor

Dari Nira ke Dunia: Kisah Desa Kalisalak Menembus Pasar Ekspor
Ibu ibu perajin gula kelapa dan gula semut menjadi penjaga kualitas gula agar sesuai standar ekspor. (Foto : Bian Pamungkas).

Banyumas-Spektroom : Di lereng perbukitan Kecamatan Kebasen, Desa Kalisalak perlahan menegaskan langkahnya menuju panggung global. Desa yang sejak lama dikenal sebagai sentra gula kelapa ini kini mengemban status baru sebagai Desa Devisa Nasional—sebuah pengakuan sekaligus tantangan untuk menembus pasar ekspor.

Penetapan tersebut datang dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia melalui program Desa Devisa yang didukung oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Program ini membuka jalan bagi desa-desa berpotensi untuk mengembangkan produk unggulan berorientasi ekspor, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Bagi warga Kalisalak, kabar ini bukan sekadar prestasi administratif. Di baliknya, ada denyut kehidupan para penderes nira kelapa yang setiap hari memanjat pohon, mengolah tetesan nira menjadi gula kelapa yang harum dan legit.

“Alhamdulillah, Kalisalak bisa lolos seleksi karena memang menjadi sentra industri gula kelapa. Jumlah petani niranya sangat banyak dibanding desa lain,” ujar Anang Iqdam Baikuni, ketua bidang ekonomi Pokja Industri Gula Senin (20/4/2026) di Kalisalak.

Menurutnya, kualitas gula kelapa dari Kalisalak menjadi kunci utama. Produk yang dihasilkan telah memenuhi standar internasional, baik dari segi komposisi maupun proses produksi. Hal inilah yang membuat gula kelapa Kalisalak dilirik pasar luar negeri.

Proses pengolahan gula kelapa dari nira menjadi gula berkualitas eksport menggunakan mesin dan steril (Foto : Bian Pamungkas).

Namun, jalan menuju desa devisa yang ideal tidaklah instan. Anang mengakui, prosesnya membutuhkan waktu panjang dan ketelitian tinggi.

“Kami belum bisa langsung 100 persen menjadi desa devisa. Ini butuh proses, terutama dalam menjaga kualitas agar sesuai standar ekspor,” jelasnya.

Saat ini, upaya penguatan dilakukan melalui Koperasi Berkas Sugar Mandiri yang menaungi sekitar 50 anggota. Mereka terdiri dari petani penderes dan para pengrajin gula kelapa, termasuk ibu-ibu yang mengolah gula cetak hingga gula semut.

Transformasi tidak hanya soal produksi, tetapi juga perubahan pola pikir. Para petani didorong untuk beralih ke proses yang lebih higienis dan organik. Pendampingan intensif pun terus dilakukan, mulai dari pelatihan hingga workshop yang digelar beberapa kali dalam setahun.

Dukungan fasilitas turut mempercepat langkah desa ini. Bantuan mesin oven gula semut, mesin pengayak, hingga magnet trap menjadi modal penting untuk meningkatkan kualitas produksi.

Bantuan mesin mengering dan pembuat gula semut dari Departemen keuangan melalui sebuah Bank swasta. ( Foto: Bian Pamungkas).

Bahkan, peluang mengikuti pameran internasional mulai terbuka, memperluas jejaring pasar global. Meski demikian, capaian ekspor masih dilakukan secara bertahap. Target besar belum menjadi fokus utama.

“Kami pelan-pelan. Yang penting kualitas dulu. Kalau kualitas sudah terjaga, pasar akan mengikuti,” kata Anang.

Di tengah segala keterbatasan, semangat warga Kalisalak tetap terjaga. Status Desa Devisa bukan hanya label, melainkan amanah yang harus dijaga bersama.

Harapannya, pendampingan dari pemerintah dan lembaga terkait terus berlanjut agar transformasi ini tidak berhenti di tengah jalan.

Dari dapur-dapur sederhana di desa, gula kelapa Kalisalak kini bersiap menembus batas negara. Sebuah perjalanan panjang dari tetes nira hingga menjadi komoditas ekspor—membawa harapan manis bagi masa depan desa.

Berita terkait

JASMERAH dari Negeri Bekas Penjajah: Ketika Eropa Merawat Ingatan, Kita Justru Melupakannya

JASMERAH dari Negeri Bekas Penjajah: Ketika Eropa Merawat Ingatan, Kita Justru Melupakannya

Oleh: Syafarudin Daeng Usman. Harlem Belanda-Spektroom : Di tengah derasnya arus digital yang mengubah hampir seluruh cara manusia berkomunikasi, sebuah pemandangan sederhana justru memantik renungan panjang. Di sudut-sudut kota tua di Italia, mulai dari Milan hingga Roma, masih berdiri kokoh bilik-bilik telepon koin. Benda yang bagi sebagian masyarakat Indonesia mungkin hanya

Apolonius Welly, Rafles
ссс