Di Bawah Rindang , Jerit Pedagang Kecil Mengawal Rupiah yang Kian Terpapar Krisis
Jakarta - Spektroom : Kabar konflik global nun jauh di sana seperti ketegangan di Timur Tengah hingga kebijakan moneter Amerika Serikat bukan lagi sekadar berita luar negeri bagi Bedul
Di dunia digital saat ini, arus informasi begitu cepat sampai ke gawai para pedagang kaki lima. Mereka sangat paham bahwa Rentetan konflik dan gejolak global tersebut berujung pada satu fakta pahit dalam keseharian :
Naiknya harga energi, biaya produksi, dan melemahnya daya beli masyarakat yang membuat omzet mereka tak pernah mencapai target.
Dari angka-angka yang mereka baca di media, dampak makroekonomi memang kian nyata. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat belasan ribu pekerja terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sejak awal tahun.
Sektor industri pengolahan (manufaktur) sebagai penyumbang angka PHK terbesar secara nasional, diikuti oleh sektor perdagangan besar dan eceran, serta sektor jasa lainnya.
Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus PHK tertinggi mencakup 21,49 persen atau 5.044 pekerja, disusul Banten 2.596 pekerja dan Jawa Timur 2.332 pekerja.
Pabrik-pabrik melakukan efisiensi besar-besaran, menciptakan gelombang pengangguran baru yang langsung memangkas daya beli di tingkat akar rumput.
Bagi Bedul, penurunan omzet jualan es doger-nya adalah indikator paling valid bahwa ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Berkurangnya tabungan dan maraknya masyarakat yang menggadaikan barang adalah bukti tak terbantahkan dari menyusutnya likuiditas rumah tangga.
Di tengah jeritan masyarakat bawah tersebut, otoritas terkait seperti Kementerian Keuangan RI mencoba menenangkan. Pemerintah menyebutkan bahwa secara fundamental kondisi ekonomi dalam negeri masih ekspansif dan terjaga. Meskipun nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus level psikologis Rp18.000. Namun, di mata pedagang kecil seperti Bedul, teori-teori makro tersebut terasa hampa dan jauh dari realita.
Di tengah bayang-bayang krisis yang kian nyata di depan mata, mereka hanya berharap agar tragedi 1998 tak terulang. Mereka lelah menjadi penonton di negerinya sendiri, terus terimpit oleh dinamika politik dan oligarki di tengah ketidakpastian