Di Tengah Badai Laut Maluku, Tangan Seorang Bidan Muda Menjadi Harapan Dua Nyawa
Sula–Spektroom : Gelombang menghantam lambung kapal tanpa henti. Angin menderu, hujan mengguyur deras, sementara KM Cantika Lestari 99 terus berlayar membelah Laut Maluku menuju Ambon.
Di tengah lautan lepas, tanpa sinyal telepon dan jauh dari daratan, seorang ibu tiba-tiba mengalami persalinan.
Saat sebagian besar penumpang hanya mampu berbaring karena mabuk laut dan takut menghadapi cuaca buruk, seorang perempuan muda memilih berdiri. Ia menggenggam tangan sang ibu, menenangkan napasnya, lalu bersiap menghadapi detik-detik yang menentukan dua nyawa.
Perempuan itu adalah Sudarti Arman, A.Md.Keb., bidan honorer Unit Gawat Darurat RSUD Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula. Peristiwa yang terjadi pada Senin (3/8/2026) itu masih membekas kuat di ingatannya.
Saat dihubungi Spektroom, Rabu (5/8/2026), suara Darti begitu ia akrab disapa bergetar ketika mengingat suasana di atas kapal.
"Tong kaluar dari Sanana sampai di Ambon ombak bukan main kencang sekali. Saat bayi lahir tong ada di lautan bebas, seng ada signal, seng ada pulau satupun yang tong dapat liat. Angin dan hujan juga cukup kencang. Semua penumpang tertidur gelisah dan seng ada yang bisa angkat kepala," tuturnya dalam bahasa daerahnya yang medhok.
Di ruang yang serba terbatas, tanpa fasilitas ruang bersalin, Darti hanya mengandalkan ilmu kebidanan, pengalaman, dan ketenangan. Ketika kondisi sang ibu mulai melemah, ia terus memberikan semangat agar tidak menyerah.
Baginya, rasa takut tidak boleh menguasai keadaan. Yang ada di hadapannya bukan sekadar pasien, melainkan seorang ibu yang sedang berjuang melahirkan, serta seorang bayi yang menunggu kesempatan pertama untuk menghirup udara dunia.
Dengan doa yang tak putus dipanjatkan, proses persalinan akhirnya berlangsung dengan selamat. Tangis bayi memecah suara badai, menghadirkan kelegaan di tengah lautan yang masih bergelora.
Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Azzura Cantika Lestari Teapon.
Nama "Cantika Lestari" diambil dari nama kapal yang menjadi saksi kelahirannya, bahkan diabadikan atas usul nahkoda sebagai kenangan akan perjuangan luar biasa di tengah laut.
Di balik aksi yang kini menjadi perbincangan masyarakat, Darti hanyalah seorang tenaga honorer yang telah mengabdi selama empat tahun enam bulan di UGD RSUD Sanana.
Ia berangkat ke Ambon bukan untuk mencari sorotan, melainkan menjalankan tugas resmi mendampingi pasien rujukan setelah dokter spesialis kandungan di RSUD Sanana sedang menjalani cuti. Namun, perjalanan itu berubah menjadi ujian yang tak pernah ia bayangkan.

Aksi heroiknya mengundang apresiasi luas. Banyak warga mengusulkan agar namanya mendapat prioritas dalam seleksi CPNS maupun PPPK sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengabdiannya.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula pun menjadwalkan pemberian penghargaan kepada Sudarti Arman pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026.
Di tengah berbagai keterbatasan layanan kesehatan di wilayah kepulauan, kisah Darti mengingatkan bahwa kepahlawanan tidak selalu lahir di medan perang.
Kadang, ia hadir dalam sosok seorang bidan muda yang memilih tetap tenang di tengah badai, menggenggam harapan seorang ibu, hingga tangis bayi akhirnya mengalahkan deru ombak.