Di Tengah Duka Kehilangan Istri, Cak Aim Pilih Tuntaskan Amanah Layani Tamu Allah
Malang-Spektroom: Tidak semua orang mampu tetap berdiri tegak ketika hidup menghadirkan ujian terberat. Namun, Muhammad Muhaimin Alpay membuktikan bahwa pengabdian dan tanggung jawab terkadang menuntut keteguhan hati yang luar biasa.
Sekretaris PWI Malang Raya yang juga wartawan Malang Posco Media itu harus menerima kabar yang meruntuhkan hati. Istri tercintanya, Almarhumah Diana Maf'ullah, berpulang ke rahmatullah saat dirinya berada ribuan kilometer dari tanah air, menjalankan tugas negara sebagai Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi.
Sebagai suami, ia tentu ingin berada di samping jenazah perempuan yang telah mendampinginya selama ini. Ia ingin mengantar ke peristirahatan terakhir, memeluk putri semata wayangnya yang sedang berduka, serta menguatkan keluarga yang ditinggalkan.
Namun di saat yang sama, ribuan jemaah haji Indonesia juga membutuhkan pelayanan dan pendampingan.
Di persimpangan antara duka pribadi dan amanah negara itu, pria yang akrab disapa Cak Aim memilih tetap bertahan menyelesaikan tugasnya hingga akhir.
Keputusan itu mengundang rasa hormat banyak pihak, termasuk Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, yang datang langsung ke rumah duka di Jalan S. Supriadi, Kota Malang, Jumat (12/6/2026).
"Kami hadir bukan hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi juga menyampaikan penghormatan. Apa yang dilakukan Cak Muhaimin menunjukkan dedikasi dan integritas yang luar biasa," ujar Dahnil.
Menurutnya, pengabdian sejati tidak diukur dari seberapa nyaman seseorang bekerja, melainkan dari kemampuannya tetap menjalankan amanah ketika kehidupan sedang menguji dari sisi yang paling menyakitkan.
"Di tengah musibah kehilangan istri, beliau tetap memilih menunaikan tanggung jawabnya melayani jemaah sampai selesai. Ini adalah contoh yang sangat baik bagi seluruh petugas haji," katanya.
Bagi Dahnil, keteguhan hati Cak Aim adalah pelajaran berharga bahwa melayani sesama bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan pengabdian.
Sementara itu, di rumah duka, harapan tetap tumbuh melalui sosok Mia (18), putri semata wayang almarhumah. Atlet taekwondo berprestasi asal Malang itu kini tengah mempersiapkan diri mengikuti tes perguruan tinggi.
Meski kehilangan sosok ibu di usia muda, Mia tidak sendiri. Keluarga besar hadir menguatkan langkahnya agar tetap menatap masa depan dengan optimisme.
"Alhamdulillah Mia dijaga dengan baik oleh keluarga. Semoga ke depan bisa terus berprestasi dan meraih cita-citanya," tutur Dahnil.
Hingga kini, Cak Aim masih bertugas di Arab Saudi sebagai bagian dari Daker Bandara, salah satu unit dengan beban operasional terpadat dalam penyelenggaraan ibadah haji. Setelah mengawal pergerakan jemaah dari Jeddah menuju Makkah dan kembali ke Jeddah, ia dijadwalkan bergeser ke Madinah pada 16 Juni untuk mendampingi pemulangan jemaah gelombang kedua.
Ia baru akan kembali ke Indonesia pada 2 Juli mendatang, setelah lebih dari 70 hari mengemban amanah.
Dari Tanah Suci, Cak Aim menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan keluarganya.
"Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala ungkapan belasungkawa, doa, perhatian, dan dukungan yang diberikan kepada almarhumah istri saya. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan menjadi amal yang berlipat ganda dan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT," tulisnya melalui pesan singkat.
Ia juga memohon maaf atas segala khilaf almarhumah semasa hidup.
Di balik kisah ini, tersimpan pesan sederhana namun begitu kuat: hidup tidak selalu memberi waktu untuk memilih antara kesedihan dan tanggung jawab. Ada kalanya seseorang harus melangkah dengan hati yang patah demi menuntaskan amanah yang telah dipercayakan.
Cak Aim mengajarkan bahwa ketegaran bukan berarti tidak bersedih. Ketegaran adalah kemampuan untuk tetap berjalan meski air mata belum sepenuhnya kering.
Dari Kota Malang hingga Tanah Suci, kisahnya menjadi pengingat bahwa pengabdian terbaik lahir dari hati yang ikhlas, sementara cinta sejati akan selalu hidup melalui doa, keteladanan, dan jejak kebaikan yang ditinggalkan.