Di Tengah Imlek, Andreas Acui Tegaskan Keragaman adalah Kekuatan Bangsa
Spektroom - Di sebuah rumah yang dipenuhi lampion merah dan aroma hidangan khas tahun baru, tawa keluarga bercampur dengan denting tetabuhan barongsai.
Di sela perayaan Imlek, Selasa (17/02/2026), Budayawan Tionghoa sekaligus Ketua Apindo Kota Pontianak, Andreas Acui, berbicara tentang makna yang lebih dalam dari sekadar pesta musim semi.
Baginya, Imlek bukan hanya ritual tahunan, melainkan cermin bagaimana keberagaman dirawat dalam kehidupan sehari-hari.

“Keragaman budaya merupakan sebuah keniscayaan. Masyarakat kita memang terdiri dari berbagai latar belakang dan sumber budaya,” ujarnya kepada Spektroom.
Di tengah suasana hangat perayaan, Andreas menegaskan bahwa keragaman bukan sekadar realitas sosial, tetapi potensi besar yang kerap belum sepenuhnya digarap.
Jika dikelola dengan baik, keberagaman justru menjadi kekuatan bangsa.
Menurutnya, sinergi antarbudaya dapat melahirkan kekayaan seni, karya kreatif, hingga energi penggerak ekonomi.
Perayaan-perayaan budaya bukan hanya ruang ekspresi identitas, tetapi juga menggerakkan sektor usaha, pariwisata, hingga UMKM.
Ia mencontohkan Imlek sebagai perayaan musim semi yang dalam tradisi Tionghoa identik dengan awal siklus tanam setelah perayaan Cap Go Meh.
Siklus itu, katanya, memiliki resonansi dengan tradisi lain di Nusantara.
“Setelah musim tanam, ada panen. Dalam budaya Dayak ada Naik Dango, pesta panen sebagai ungkapan syukur,” tuturnya.
Bagi Andreas, ada benang merah antara Imlek dan Naik Dango—keduanya sama-sama merayakan harapan, kerja keras, dan rasa syukur atas kehidupan.
Tradisi yang lahir dari akar budaya berbeda itu pada dasarnya berbicara dalam bahasa yang sama: tentang manusia dan alam.
Pertanyaan tentang keterlibatan warga non-Tionghoa dalam pertunjukan barongsai dan naga pun ia jawab dengan terbuka.
“Boleh saja. Barongsai adalah kesenian. Siapa pun bisa belajar,” katanya.

Justru, menurutnya, ketika anak-anak muda dari etnis berbeda memegang kepala naga atau menabuh tambur barongsai, di situlah persenyawaan budaya terjadi secara alami.
Tidak ada sekat, tidak ada klaim eksklusif. Yang ada adalah latihan bersama, keringat bersama, dan tepuk tangan penonton yang sama.
Di Pontianak, pemandangan itu bukan hal baru. Pemain barongsai dari beragam latar belakang tampil lincah di bawah gemerlap lampion.
Mereka menjadi simbol kecil bahwa kebudayaan bisa menjadi jembatan, bukan batas.
Bagi Andreas Acui, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh angka-angka ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan merawat keberagaman sebagai energi kolektif.
Di tengah riuh perayaan Imlek, pesan itu terasa sederhana namun kuat: berbeda bukan untuk dipisahkan, melainkan untuk disatukan dalam harmoni.