Trending

Diskusi Majapahit dan Tanjungpura Kupas Jejak Historis Kalimantan

Diskusi Majapahit dan Tanjungpura Kupas Jejak Historis Kalimantan
Penulis buku WIIJAYA: Buku Visual Majapahit, Heru Effendy, sebagai narasumber utama (kostum putih). Diskusi dipantik Dr. Imam Qalyubi, S.S,M.Hum. (Foto: Polin)

Palangka Raya-Spektroom: Diskusi santai bertema relasi Kerajaan Majapahit dengan wilayah-wilayah di Kalimantan berlangsung hangat di Sekretariat Bawi Dayak Kota Palangka Raya (ASBADATA), Jalan Yos Sudarso Ujung, Palangka Raya, Sabtu malam (9/5/2026).

Kegiatan ini menghadirkan penulis buku WIIJAYA: Buku Visual Majapahit, Heru Effendy, sebagai narasumber utama. Diskusi dipantik Dr. Imam Qalyubi dan dipandu Arbendi E Tue dengan dihadiri budayawan, akademisi, Eko YESS pegiat seni lukis, peserta mahasiswa, hingga pemerhati sejarah lokal dari Kapuas.

Dalam forum tersebut, pembahasan mengupas hubungan Majapahit dengan sejumlah wilayah di Kalimantan seperti Tanjungpura, Barito, Katingan, Sampit, Kotawaringin, Kapuas, hingga Sambas. Keterkaitan dan eksistensi kerajaan Nan Sarunai juga menjadi salah satu topik yang memantik perhatian peserta.

Penulis buku WIIJAYA: Buku Visual Majapahit, Heru Effendy, menjelaskan bahwa kajian mengenai hubungan Majapahit dengan wilayah Kalimantan penting terus dibuka melalui ruang diskusi publik agar masyarakat memiliki perspektif lebih luas terhadap sejarah Nusantara.

Menurutnya, banyak jejak budaya, tradisi lisan, hingga catatan sejarah yang masih perlu dikaji secara lebih mendalam dan terbuka agar tidak hanya berhenti sebagai cerita turun-temurun.

Arbendi E Tue dan mahasiswa binaannya saat mengikuti diskusi. (Foto: Polin)

Pemandu diskusi, Arbendi E Tue, mengatakan forum semacam itu menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai sudut pandang sejarah secara lebih cair dan terbuka.

“Diskusi sejarah tidak boleh berhenti di ruang akademik saja. Harus ada ruang publik seperti ini agar masyarakat, terutama generasi muda dan pelaku seni budaya, ikut memahami akar sejarah daerahnya,” ujarnya.

Ia menilai keterlibatan pelaku drama, tari, dan budayawan dalam diskusi sejarah sangat penting karena sejarah tidak hanya disimpan dalam buku, tetapi juga bisa dihidupkan kembali melalui karya seni dan budaya.

Sementara itu, pemantik diskusi Dr. Imam Qalyubi, S.S, M.Hum menyoroti pentingnya membangun tradisi literasi sejarah yang berbasis kajian kritis dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Sejarah Kalimantan memiliki banyak ruang yang masih perlu ditelusuri. Karena itu, diskusi seperti ini menjadi langkah awal untuk membuka kesadaran kolektif bahwa daerah kita memiliki jejak penting dalam perjalanan peradaban Nusantara,” katanya.

Menurutnya, masyarakat perlu didorong untuk lebih aktif membaca, meneliti, dan mendiskusikan sejarah lokal agar tidak mudah terjebak pada klaim-klaim tanpa dasar ilmiah yang kuat.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta, mulai dari hubungan antarkerajaan di Nusantara hingga pengaruh sejarah dan agama terhadap identitas budaya masyarakat Indonesia dan Dayak khususnya saat ini dan masa depan.

Momen Sebelum Diskusi Berlangsung bersama Pelukis Eko YESS.(Foto; Polin)

Selain memperluas wawasan sejarah, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga warisan budaya dan sejarah lokal di tengah perkembangan zaman berbeda tapi dalam bingkai NKRI. (Polin)

Berita terkait

Pramono Targetkan Seluruh 267 Kelurahan Ikuti Benyamin S Award 2027

Pramono Targetkan Seluruh 267 Kelurahan Ikuti Benyamin S Award 2027

Jakarta-Spektroom: Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menargetkan seluruh 267 kelurahan di Jakarta berpartisipasi dalam Benyamin S Award (BSA) pada 2027. Target tersebut diharapkan mendorong pemerataan peningkatan kualitas lingkungan, pengembangan inovasi wilayah, serta penguatan peran masyarakat dalam mewujudkan Jakarta yang bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Target itu disampaikan Pramono saat

Irvan Idris Saleh, Julianto