Dr. Rosarita Niken Widiastuti, Jejak Sunyi Perempuan Penjaga Etika Informasi Raih Kartini Award 2026

Dr. Rosarita Niken Widiastuti, Jejak Sunyi Perempuan Penjaga Etika Informasi Raih Kartini Award 2026
Dr. Rosarita Niken Widiastuti menerima AMKI Kartini Award 2026 ( Fotoi : Istimewa )

Jakarta-Spektroom: Di tengah riuh arus informasi digital yang kian deras, sosok Dr. Rosarita Niken Widiastuti hadir sebagai penenang. Bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai penjaga nurani ruang publik.

Tahun ini, ia menerima AMKI Kartini Award 2026—sebuah penghargaan yang menegaskan kiprahnya sebagai simbol keteguhan perempuan dalam merawat informasi yang sehat dan beretika.

Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang yang digelar oleh Asosiasi Media Konvergensi Indonesia di Grand Cendana Aston Kartika Grogol Hotel & Conference Center, Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Ajang AMKI Kartini Award 2026 ini menobatkan 11 perempuan dari berbagai bidang sebagai figur inspiratif yang dinilai berkontribusi dalam kepemimpinan, kebijakan publik, hingga kerja-kerja kemanusiaan.

Perjalanan Niken bukanlah cerita instan. Ia memulai langkah dari balik mikrofon radio di Yogyakarta, menyapa pendengar dengan suara yang menghangatkan. Dari ruang siaran sederhana itu, ia tumbuh menjadi perempuan pertama yang memimpin Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) sebagai Direktur Utama. Sebuah tonggak yang tidak hanya personal, tetapi juga historis bagi kepemimpinan perempuan di sektor penyiaran publik.

Dalam kepemimpinannya, Niken memperkenalkan konsep “sabuk pengaman informasi”—sebuah gagasan yang menempatkan siaran publik sebagai benteng kedaulatan bangsa, terutama di wilayah perbatasan dan daerah yang minim akses informasi. Baginya, informasi bukan sekadar kabar, melainkan alat pemberdayaan masyarakat.

Penghargaan yang ia terima menjadi pengakuan atas dedikasinya dalam literasi digital dan etika informasi publik. Di tengah tantangan disinformasi dan polarisasi, Niken berdiri sebagai penjaga keseimbangan—menguatkan kepercayaan publik terhadap media.

Usai menerima penghargaan, Niken tidak berbicara tentang dirinya. Ia justru mengarahkan sorotan pada perempuan Indonesia secara luas.

Dr.Rosarita Niken Widiastuti ( Foto: Istimewa )

“Penghargaan ini kami persembahkan untuk semua perempuan hebat. Semangat Raden Ajeng Kartini mengajarkan kita untuk berani berpikir melampaui zaman. Hari ini, perempuan Indonesia meneruskan itu—dengan keberanian gagasan dan ketekunan mewujudkannya,” ujarnya.

Ketua Umum AMKI, Tundra Meliala, menegaskan bahwa semangat Kartini menjadi landasan utama penyelenggaraan penghargaan tersebut. Menurutnya, kemajuan bangsa tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan aktif perempuan dalam pendidikan, pemikiran, dan kepemimpinan.

“Ini bukan sekadar penghargaan, tetapi ikhtiar untuk mengangkat, mengakui, dan memperkuat peran perempuan Indonesia di berbagai sektor strategis,” ujar Tundra dalam sambutannya.

Ia menambahkan, di tengah konvergensi media dan transformasi digital yang berlangsung cepat, perempuan kini semakin menempati posisi penting, mulai dari ruang redaksi, institusi pemerintahan, hingga lini terdepan dalam penanganan krisis sosial dan kemanusiaan.

AMKI sendiri berdiri pada 2025 sebagai respons atas dinamika industri media berbasis teknologi. Dalam kurun waktu satu tahun, organisasi ini telah menjalankan sedikitnya 33 program, dengan AMKI Kartini Award sebagai program ke-33.

“Perempuan bukan hanya pelengkap, tetapi penentu arah masa depan ekosistem informasi yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Tundra.

Lebih jauh, AMKI menetapkan sembilan kategori penghargaan, yakni Kepemimpinan Nasional, Penggerak Kebijakan Publik, Pengabdian Negara, Bhayangkara Inspiratif, Penggerak Sosial Kemasyarakatan, Tokoh Pemberdayaan Masyarakat, Profesional dan Inovator, Inspirasi Ketahanan dan Kemanusiaan, serta Lifetime Achievement. Kesembilan kategori tersebut mencerminkan luasnya kontribusi perempuan Indonesia, dari tingkat pusat hingga akar rumput.

Dari kategori itu, terpilih 11 penerima penghargaan, meliputi:

  1. Dr. Dra. Hj. Sitti Ma’ani Nina, M.Si., CGCAE sebagai Penggerak Integritas dan Kepemimpinan Perempuan di Sektor Pemerintahan
  2. Tinawati Andra Soni sebagai Pemberdaya Perempuan dan Penguat Ketahanan Keluarga
  3. Dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS sebagai Pelopor Layanan Kesehatan untuk Masyarakat
  4. Dr. Shinta Purwitasari, S.H., S.T., M.H., QRMP sebagai Penggerak Pendidikan dan Keadilan Agraria
  5. Siti Fauziah, SE., M.M sebagai Pengawal Demokrasi dan Transformasi Kelembagaan Negara
  6. Ir. Diana Kusumastuti, M.T sebagai Penggerak Infrastruktur Berkelanjutan
  7. Dr. (HC) Dra. Hj. Nurhayati Subakat sebagai Wirausaha Visioner dan Penggerak Kemandirian Perempuan
  8. Wilda Yanti sebagai Inovator Ekonomi Hijau dan Keberlanjutan Global
  9. Dr. Rosarita Niken Widiastuti sebagai Literasi Digital dan Penjaga Etika Informasi Publik
  10. Ibu Salmawaty, SE., M.M sebagai Penggerak Perempuan dan Pembangunan Kesejahteraan Keluarga
  11. AKBP Dr. Netty Rosdiana Siagian, S.H., M.H., M.M sebagai Bhayangkara Tangguh dalam Penegakan Hukum dan Kepemimpinan

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Amurwani Dwi Lestariningsih, yang mewakili Menteri P3A Arifatul Chori Fauzi, menilai para penerima penghargaan sebagai representasi “Kartini masa kini” yang tidak hanya memiliki gagasan maju, tetapi juga mampu mewujudkannya dalam tindakan nyata.

“Penghargaan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan moral dan sosial yang menginspirasi semakin banyak perempuan Indonesia untuk terus berkarya dan memimpin perubahan,” ujarnya.

Melalui ajang ini, AMKI menegaskan bahwa penguatan peran perempuan bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak dalam membangun masyarakat yang adil, inklusif, dan berdaya saing di era digital.

Di antara deretan nama inspiratif, Niken menempati ruang yang khas—ruang sunyi yang jarang terlihat, tetapi sangat menentukan arah. Ia tidak hanya membangun sistem, tetapi juga merawat nilai.

Di era ketika informasi bisa menjadi senjata atau penyembuh, Niken memilih menjadi penjaga. Dan dari ketenangan itulah, lahir kekuatan yang tak banyak disadari, namun sangat dibutuhkan: kepercayaan.

Berita terkait

Bupati Sleman Hadiri Penandatanganan Kerja Sama BPJS Kesehatan dan Mitra JKN

Bupati Sleman Hadiri Penandatanganan Kerja Sama BPJS Kesehatan dan Mitra JKN

Sleman-Spektroom : Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menghadiri sekaligus menyaksikan penandatanganan kerja sama antara BPJS Kesehatan Cabang Sleman dengan mitra Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Sembada, Kantor Setda Sleman, Rabu (29/4/2026). Kerja sama ini bertujuan mengoptimalkan pelaksanaan program JKN melalui semangat gotong royong, dengan melibatkan

Bian Pamungkas