Drama Musikal Tembang Dolanan Hidupkan Nostalgia Masa Kecil di HUT ke-81 RRI Surakarta
Surakarta-Spektroom : Suasana masa kecil di perkampungan Jawa seolah kembali hadir di panggung Auditorium Sarsito Mangunkusumo RRI Surakarta, Jumat (11/9/2026). Sekitar 40 anak dan remaja tampil dalam drama musikal yang menyemarakkan peringatan HUT ke-81 RRI, dengan membawakan sejumlah tembang dolanan yang kini semakin jarang terdengar.
Selama hampir satu jam, panggung auditorium berubah menjadi gambaran dunia anak-anak masa lalu. Suasana syahdu perkampungan di bawah cahaya bulan purnama berpadu dengan keceriaan anak-anak bermain sambil menyanyikan lagu-lagu dolanan.
Tembang seperti Padhang Mbulan, Cublak-Cublak Suweng, Dondong Apa Salak, Menthok-Menthok, Kidang Talun, dan Lela Ledhung mengalir dalam irama yang ceria.
Penampilan anak-anak dari Suaranussa tersebut tidak sekadar menyuguhkan hiburan. Kesederhanaan permainan dan tembang dolanan seolah mengajak penonton kembali mengenang masa kecil, ketika anak-anak menghabiskan waktu dengan permainan sederhana dan bernyanyi bersama.
Segenap jajaran RRI Surakarta dan tamu undangan yang memenuhi auditorium menyaksikan pertunjukan dengan antusias. Bahkan, tak sedikit yang tampak larut dalam suasana haru dan nostalgia.
“Keren sekali penampilan anak-anak. Sampai merinding saya. Panggung seolah menjadi dunia anak-anak masa lalu yang bermain sederhana dengan lagu-lagu yang dulu sangat akrab dan populer di zaman saya kecil,” ungkap Yani, salah seorang tamu undangan.

Suasana semakin hangat ketika lagu Padhang Mbulan dimainkan. Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani spontan naik ke panggung dan ikut bernyanyi bersama para penampil. Ia kembali larut dalam suasana ketika lagu penutup Tanah Airku dibawakan.
Astrid mengatakan, kesenian yang lahir dari hati perlu terus diberi ruang karena menjadi bagian penting dari jati diri dan budaya.
“Jujur saya terharu melihat pementasan anak-anak yang mengingatkan saya pada masa kecil sebagai putri daerah dari Kota Solo. Ini merupakan wujud nyata bagaimana sebuah media seperti RRI memberikan ruang kepada anak-anak kita,” ujarnya.
Menurut Astrid, budaya harus terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ia juga mengapresiasi RRI yang turut membuka ruang bagi kreativitas anak dan pelestarian kesenian.
“Terus berkarya, terus semangat, terus menjaga budaya Kota Solo, kota budaya untuk kita semua,” pesannya.
Melalui paduan suara, tari, dan visual, pentas tersebut juga membawa pesan bahwa tembang dolanan bukan sekadar nostalgia masa lalu. Tembang dolanan menjadi ruang belajar sekaligus media untuk mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya. (Ciptati Handayani)