Dubes Belanda Kagumi Bukittinggi, Prof. Fadli Zon: Tanpa PDRI, Indonesia Tak Akan ada
Bukittinggi-Spektroom : Sejarah bukan sekadar deretan peristiwa yang tersimpan dalam buku atau arsip negara. Sejarah adalah denyut perjalanan sebuah bangsa yang terus hidup, mengajarkan identitas, dan menjadi fondasi masa depan.
Pesan itu mengemuka dalam Seminar Internasional bertajuk "Merajut Tenun Diplomasi antara Indonesia dan Belanda; Pergerakan Belanda hingga Repatriasi" yang digelar Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di Balai Sidang Hatta, Bukittinggi, Sabtu (20/6/2026).
Seminar yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional, budayawan, akademisi, sejarawan hingga tamu internasional. Hadir secara langsung Menteri Kebudayaan RI Prof. (Hc) DR. Fadli Zon,SS.M.Sc, Budayawan Nasional Prof. Taufik Ismail, Chalid Prawiranegara selaku putra Pahlawan Nasional sekaligus Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) Mr. Syafruddin Prawiranegara, keluarga arsitek perancang Jam Gadang termasuk dihadiri; Wali Kota Bukittinggi H.M Ramlan Nurmatias,SH Datuak Nan Basa, Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis,STP Sutan Saidi, Ketua DPRD Bukittinggi, Direktur Keuangan PT Semen Padang, Dandim 0304/Agam Letkol Inf Slamet Dwi Santoso,S.IP, Direktur Minang Diaspora Prof DR. dr. Fasli Djalal,Sp.GK, Kepala BPK Wilayah III Sumbar Nurmatias, Perwakilan Kodam XX/TIB, Staf Ahli Luar Negeri UFdK Bukittinggi DR. H. Gusrizal Datuak Salubuak Basa, Legiun Veteran Angkatan 66, Anggota DPRD Sumbar Hj. Yessi Endriani.SM.RO, Ketua LKAAM Kota Bukittinggi Fery Chopa,SH.L.LM, Akademisi, Perbankan, Pemuka Adat, Bundo Kanduang, Perwakilan Kapolda Sumbar, Pemprov Sumbar, OPD serta berbagai elemen masyarakat.
Perhatian peserta seminar tertuju pada testimoni yang disampaikan secara daring oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia H.R. Mr. Marc Gerritsen. Dalam paparannya, ia mengungkapkan kekagumannya terhadap Bukittinggi dan masyarakat Minangkabau yang dinilai berhasil mempertahankan identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi.
Menurut Marc Gerritsen, Bukittinggi bukan hanya memiliki panorama alam yang indah, tetapi juga menjadi kota yang memancarkan kekuatan nilai-nilai tradisi, adat istiadat, serta kehidupan beragama yang tetap terjaga hingga kini.
Ia bahkan menyinggung falsafah masyarakat Minangkabau yang menurutnya menjadi contoh harmonisasi antara adat dan agama. Nilai-nilai itu dinilai menjadi kekayaan budaya yang tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga menjadi inspirasi bagi dunia internasional dalam menjaga identitas bangsa di tengah perubahan zaman.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam pidato pembukaan menyampaikan bahwa Indonesia memiliki perjalanan peradaban yang sangat panjang. Karena itu, menurutnya, Indonesia lebih tepat disebut sebagai Civilization State atau negara peradaban dibanding sekadar National State.
Menurut Fadli Zon, kesadaran budaya merupakan fondasi penting yang harus dimiliki seluruh anak bangsa. Budaya tidak boleh hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai kekuatan yang menghubungkan sejarah, identitas, hingga arah pembangunan bangsa ke depan.
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon memberikan penekanan khusus terhadap posisi Bukittinggi dalam sejarah nasional.
Ia menegaskan, tanpa keberadaan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Mr. Syafruddin Prawiranegara pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948, perjalanan Republik Indonesia kemungkinan besar tidak akan sama seperti yang dikenal saat ini.
"PDRI adalah bukti bahwa Republik Indonesia tidak pernah berhenti berdiri. Ketika para pemimpin bangsa ditawan, pemerintahan tetap berjalan dari Ranah Minang. Dunia mengetahui bahwa Indonesia masih ada karena keberanian para pejuang di daerah ini," tegasnya.
Fadli Zon menyebut Bukittinggi merupakan salah satu kota yang mengukir tinta emas perjalanan bangsa. Karena itu, sejarah kota ini tidak cukup hanya dikenang melalui monumen atau buku pelajaran, tetapi harus dihidupkan melalui berbagai kegiatan budaya dan edukasi.
Ia bahkan mengaku sejak lama mendorong agar Bukittinggi semakin menegaskan identitasnya sebagai Kota Perjuangan.
Menurutnya, citra Bukittinggi sebagai destinasi wisata memang penting, namun nilai historis yang dimiliki kota ini jauh lebih besar.
"Ketika orang memasuki Bukittinggi, mereka seharusnya langsung merasakan bahwa inilah kota perjuangan bangsa. Kota yang pernah menjaga nyala Republik ketika keadaan berada di titik paling genting," ungkapnya.
Seminar internasional tersebut juga menghadirkan budayawan nasional Prof. Taufik Ismail yang membawakan puisi-puisi bertema kritik sosial dan nasionalisme. Penampilannya mendapat apresiasi peserta karena mampu menghidupkan kembali semangat kebangsaan melalui sastra.
Kehadiran Chalid Prawiranegara juga menjadi momen yang sarat makna. Sebagai putra Mr. Syafruddin Prawiranegara, ia mengenang perjuangan ayahnya bersama para tokoh bangsa mempertahankan eksistensi Republik Indonesia pada masa agresi militer Belanda.
Rangkaian peringatan seabad Jam Gadang tidak berhenti pada seminar. Pada malam harinya, kawasan pelataran Jam Gadang dipenuhi ribuan masyarakat dalam acara puncak Satu Ranah Budaya (Sabudaya) Jam Gadang Cultural, yang menampilkan kekayaan seni dan budaya Minangkabau dalam balutan pertunjukan musik, tari tradisional, hingga atraksi budaya.
Suasana menjadi simbol bahwa Jam Gadang bukan hanya ikon wisata, tetapi juga penanda perjalanan sejarah dan identitas masyarakat Bukittinggi yang telah bertahan selama satu abad.
Kemudian pada Minggu (21/6/2026), kemeriahan peringatan dilanjutkan dengan Festival Kuliner Lokal yang menghadirkan beragam makanan khas Minangkabau secara gratis bagi para pengunjung.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Pemerintah bersama Kementerian Kebudayaan berharap peringatan 100 Tahun Jam Gadang tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi menjadi momentum memperkuat ingatan kolektif bangsa bahwa Bukittinggi bukan hanya kota yang memikat karena keindahan alamnya, melainkan juga kota yang menyimpan jejak perjuangan, diplomasi, dan peradaban Indonesia yang akan terus dikenang sepanjang masa. (Rita)