Dunia Seni Tradisi Yogyakarta Berduka, Seniman Kethoprak Yu Beruk Meninggal Dunia
Spektroim — Kabar duka menyelimuti dunia seni tradisi Yogyakarta. Seniman kethoprak legendaris Sumisih Yuningsih, yang akrab disapa Yu Beruk, meninggal dunia pada Sabtu (14/2/2026) sekitar pukul 08.30 WIB.
Sosok yang dijuluki “Ratu Panggung” oleh para pegiat kethoprak ini menghembuskan napas terakhir di rumah duka kawasan Mantrijeron, Yogyakarta.
Kepergian Yu Beruk meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan komunitas seni tradisi. Ratusan pelayat, termasuk sejumlah seniman dan tokoh budaya, tampak hadir memberikan penghormatan terakhir.
Permaisuri Keraton Yogyakarta, GKR Hemas, serta GKBRAA Paku Alam dari Kadipaten Pakualaman juga terlihat melayat ke rumah duka.
Putri kelima almarhumah, Lisa Pawestri, mengungkapkan bahwa sang ibu sempat mengalami sesak napas sekitar 10 hari sebelum wafat. Yu Beruk memang memiliki riwayat gangguan paru-paru akibat infeksi.
“Kemarin itu mungkin kecapekan karena banyak kegiatan habis ngapem. Dua hari setelah itu langsung ambruk. Biasanya sakit biasa, tapi kali ini disertai sesak,” ujarnya.
Duka juga dirasakan rekan-rekan sesama seniman. Yati Pesek mengaku kehilangan sahabat yang sudah dianggap seperti saudara. Ia mengungkapkan telah berteman dengan Yu Beruk sejak 1968.

“Saya kenal Yuningsih di Jepara saat manggung. Pokoknya ke mana-mana bareng,” katanya.
Sementara itu, Didik Nini Thowok menyatakan kepergian Yu Beruk menjadi kehilangan besar bagi dunia seni tradisi.
“Saya merasa sangat kehilangan. Yu Beruk sering mengajari tari dan komedi,” ungkapnya.
Yu Beruk dikenal sebagai seniman dengan jam terbang tinggi dan dedikasi luar biasa terhadap seni kethoprak. Hingga akhir hayat, ia tetap aktif berkarya dan menjadi simbol keteguhan seniman tradisional yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Nama Yu Beruk akan terus dikenang sebagai salah satu ikon seni tradisi Yogyakarta yang telah memberi kontribusi besar bagi pelestarian budaya. (Fatmawati)