Filosofi Orang Kampung, Merawat Ingatan Jakarta di Tengah Kota yang Terus Berubah
Jakarta-Spektroom : Jakarta terus bergerak. Gedung-gedung tinggi tumbuh, teknologi berkembang, dan wajah kota berubah semakin modern. Namun, di balik hiruk-pikuk itu, ada satu hal yang tak seharusnya hilang: ingatan tentang kampung dan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang pernah menjadi denyut keseharian Ibu Kota.
Ingatan itulah yang coba dirawat sastrawan dan penulis naskah Harry Tjahjono melalui buku Filosofi Orang Kampung. Buku tersebut diluncurkan di Balai Sastra H.B. Jassin, Perpustakaan Jakarta, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2026).
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno yang hadir dalam peluncuran itu menilai karya tersebut bukan sekadar buku, melainkan bagian dari upaya mendokumentasikan kehidupan kampung Jakarta yang perlahan semakin jarang ditemui.
Bagi Rano, nama Harry Tjahjono juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan cerita Si Doel. Harry dinilai berhasil memperluas ekosistem cerita dengan menghadirkan karakter-karakter yang kemudian begitu lekat dengan ingatan masyarakat, seperti Mandra, Atun, Karyo, hingga Pak Bendot.
“Buku karya sahabat saya ini sangat penting karena mempertemukan kembali gagasan awal cerita Si Doel serta penghargaan terhadap karya sastrawan besar Aman Datuk Madjoindo,” ujarnya.
Cerita Si Doel, menurutnya, bukan hanya bagian dari sejarah perfilman dan sinetron Indonesia. Lebih dari itu, kisah tersebut menjadi semacam rekaman kehidupan Jakarta pada masanya. Dialog, karakter, dialek, dan suasana perkampungan yang ditampilkan ikut membentuk memori kolektif masyarakat.
Rano bahkan mengaitkan perjalanan tokoh Si Doel dengan kehidupannya sendiri. Ia mengenang ucapan mendiang Benyamin Sueb yang pernah menyebut agar Si Doel menjadi gubernur.
Ucapan itu, kata Rano, pertama kali muncul sejak film Si Rano karya Motinggo Busye pada 1973 dan kemudian mengalir secara alami ke dalam cerita sinetron. Kini, tanpa pernah dirancang melalui sebuah naskah formal, perjalanan itu seolah menemukan jalannya sendiri. Rano Karno yang dahulu dikenal masyarakat sebagai pemeran Si Doel kini benar-benar menjalankan pengabdian di Balai Kota DKI Jakarta.
Di tengah perubahan Jakarta menjadi kota global, Rano berharap nilai-nilai kehidupan kampung tidak ikut tersisih. Interaksi antartetangga, kebiasaan warga, bahasa lokal, serta kesederhanaan kehidupan masyarakat merupakan kekayaan budaya yang perlu diwariskan.
Ia pun mendorong Harry Tjahjono terus berkarya, termasuk menyusun ensiklopedia dan seri lanjutan agar kehidupan kampung tidak hanya tinggal dalam ingatan.
Sementara bagi Harry, buku tersebut lahir dari kegelisahan yang telah ia rasakan selama puluhan tahun: kekhawatiran masyarakat Betawi semakin terasing di tanah kelahirannya sendiri.
Keterbatasan fisik setelah mengalami serangan stroke tidak membuatnya berhenti berkarya. Justru dari kondisi tersebut, Harry terus menghasilkan novel, puisi, novelet hingga karya musik bertema Betawi.
Ia bahkan tengah menyiapkan pembaruan aransemen sekitar 30 lagu lama yang direncanakan diproduksi kembali pada Januari mendatang. Di tengah Jakarta yang terus berlari menuju masa depan, Filosofi Orang Kampung menjadi pengingat bahwa sebuah kota bukan hanya dibangun dari beton, jalan dan gedung pencakar langit.
Ada cerita manusia, bahasa, kebiasaan, dan kearifan kampung yang membuat Jakarta memiliki jiwa. Dan selama cerita itu terus ditulis serta diwariskan, ingatan tentang Jakarta tidak akan mudah hilang.