Geopark Nasional Sawahlunto Mati Suri, Tetangga Sijunjung Lari Kencang ke UNESCO Global, Status GN Sawahlunto Terancam Dicabut
Oleh : Riswan Idris
Sawalunto-Spektroom : Sawahlunto punya dua mahkota dunia. Satu sudah dikalungkan UNESCO: Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto. Satu lagi, Geopark Nasional Sawahlunto yang seharusnya menjadi mesin ekonomi baru, justru mati suri di ruang penyimpanan.
Ironis. Di saat Sijunjung, kabupaten tetangga yang dulu selalu disebut tertinggal, kini sedang dinilai oleh Tim Evaluator UNESCO pada 17-21 Agustus 2026 untuk menjadi UNESCO Global Geopark, Sawahlunto masih sibuk menandatangani NPHD hibah dan audiensi ke Bappenas.
Ini bukan soal geologi. Batuan Sawahlunto jauh lebih lengkap. Ini soal political will.
Sawahlunto: Besar di Sertifikat, Kecil di Anggaran
Geopark Nasional Sawahlunto ditetapkan bersamaan dengan Geopark Silokek Sijunjung pada 30 November 2018. Sejak awal, mandatnya jelas: harus ada badan pengelola yang aktif serta rencana induk pengelolaan.
Faktanya?
Badan Pengelola Hidup dari Hibah. Pada 28 Februari 2024, Pemko baru memberikan dukungan melalui Nota Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) kepada Badan Pengelola Geopark Nasional Sawahlunto. Artinya, selama 5 tahun sejak penetapan nasional, Geopark ini tidak punya alokasi APBD yang permanen, hanya mengandalkan hibah tahunan yang nilainya tak sebanding dengan status nasional.
Revalidasi Jadi Ancaman. Tujuh Geopark Nasional akan dievaluasi tahun depan, termasuk Sawahlunto dan Ranah Minang Silokek. Tahun 2025, Rapat Tim Verifikasi Geopark Nasional kembali digelar untuk rekomendasi penetapan status. Jika tidak ada progres, status nasional Sawahlunto bisa dicabut. Sampai hari ini, tidak ada satu pun geosite Sawahlunto yang dikelola dengan standar geotrail, panel interpretasi, dan pemandu bersertifikat geopark seperti yang disyaratkan.
Pemko Sibuk di Jakarta, Lupa di Lubang Tambang. Sebelumnya Pj Wali Kota Zefnihan harus audiensi ke Bappenas meminta agar Warisan Tambang Batubara Ombilin menjadi Kawasan Strategis Nasional. Langkah baik, tapi sekarang Pasca Pj Zefnihan, Geopark yang ada di depan mata tidak dijadikan prioritas RPJMD. Padahal potensi geologi Sawahlunto dari dataran tinggi Bukit Barisan memiliki nilai tinggi yang bisa diintegrasikan dengan kampus lapangan tiga universitas.
Kata seorang penggiat geopark lokal yang enggan disebut namanya: "Kita hanya jadi Tuan Rumah Seminar, tapi bukan tuan rumah di rumah sendiri. Tamu datang, foto di Lubang Mbah Suro, lalu pulang. Masyarakat tidak dapat apa-apa."
Sijunjung: Tidak Punya Tambang, Punya Nyali
Bandingkan dengan Sijunjung.
Kabupaten yang luas geoparknya 130.000 hektare di dua kecamatan Sumpur Kudus dan Sijunjung ini sejak 2022 sudah masuk nominasi untuk diusulkan ke UNESCO.
Apa yang mereka lakukan?
- Kepemimpinan yang Satu Suara. Bupati Benny Dwifa Yuswir turun langsung menyambut Menparekraf, Gubernur Mahyeldi pun menyatakan dukungan infrastruktur penuh untuk Geopark Silokek sebagai kandidat kuat Indonesia. Pemprov Sumbar bahkan menargetkan pengakuan UNESCO Global Geopark pada 2026.
- Anggaran dan Kelembagaan Jelas. Dalam dokumen perencanaan Sijunjung, Peningkatan SDM dan Penguatan Kelembagaan Badan Pengelola Geopark menjadi prioritas untuk mendorong ekonomi lewat wisata. Mereka tidak mengandalkan hibah insidentil.
- Kolaborasi Akademik Serius. Saat Sawahlunto baru wacana kerja sama dengan Unpad, Sijunjung sudah duduk bersama FTG Unpad membahas konservasi dan geowisata berbasis masyarakat untuk memenuhi standar penilaian internasional Aspiring UNESCO Global Geopark 2025.
- Hasilnya Nyata. Nilai assessment Silokek 81,3 tertinggi nasional, di atas Bojonegoro dan Sianok Maninjau. Kini mereka sedang dalam penilaian langsung evaluator UNESCO yang mencakup konservasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat hingga pariwisata berkelanjutan.
Sijunjung tidak punya Warisan Dunia UNESCO. Mereka tidak punya APBD sebesar kota. Tapi mereka punya roadmap.
Mengapa Sawahlunto Kalah?
Karena Sawahlunto menderita sindrom "Kota Sudah Jadi". Merasa sudah punya status UNESCO Tambang, maka Geopark dianggap aksesori.
Padahal filosofi geopark berbeda: Jika Warisan Tambang adalah tentang masa lalu, Geopark adalah tentang masa depan - bagaimana geologi menghidupi masyarakat hari ini.
Sijunjung mengusung tema kuat: ‘Jejak Pengangkatan Karst Berumur Purba di Atas Batuan Dasar Cekungan Ombilin’. Sawahlunto? Sampai sekarang belum punya storyline tunggal yang dijual ke dunia. Padahal kita punya Formasi Ombilin, fosil, dan warisan tambang dalam satu paket.
Catatan Konstruktif untuk Pemko Sawahlunto
Mengkritik tanpa solusi adalah nyinyir. Ini 4 langkah penyelamatan:
- Jadikan Badan Pengelola OPD atau BUMD, Bukan Penerima Hibah. Hibah itu charity. Geopark butuh anggaran tetap di Dinas Pariwisata atau BUMD Wisata dengan KPI revalidasi.
- Tiru Sijunjung: Satu Meja, Satu Peta. Buat Geopark Information Center (GIC) permanen seperti di dekat Tugu Muaro Sijunjung, bukan sekadar sekretariat. Sijunjung punya pusat di Silokek dan GIC di Muaro. Sawahlunto harus punya GIC di Kota Lama dan di setiap geosite utama.
- Stop Jualan Batu, Mulai Jualan Jasa. Sijunjung fokus pada Desa Wisata Silokek dan pemberdayaan. Sawahlunto masih jualan karcis masuk lubang. Ubah menjadi paket geotrail, geo-edu untuk 1000 orang yang sudah dididik BDTBT ESDM harus menjadi pemandu, bukan peserta sertifikat.
- Integrasi WTBOS dan Geopark. Jangan pisahkan. Dunia mengakui Sawahlunto karena geologi batubara menghidupkan peradaban tambang. Ajukan narasi: Sawahlunto adalah satu-satunya Geopark Tambang di Indonesia. Ini yang tidak dimiliki Sijunjung.
Jika tidak, 5 tahun lagi kita akan menulis feature yang sama: Sawahlunto, mantan Kota Warisan Dunia yang gagal mengurus warisan buminya sendiri, sementara Sijunjung sudah menerima plakat hijau UNESCO Global Geopark di Paris.
Waktunya Pemko Sawahlunto bangun dari tidur panjangnya.
(Penulis adalah Jurnalis Spektroom, Pemerhati Lingkungan, Sosial dan Kebijakan Publik)