Gipsum Puger dan Pati Singkong Bisa Bantu Pembentukan Tulang Rahang
Gipsum Puger dipilih karena kaya akan kalsium yang dapat diolah menjadi hidroksiapatit melalui proses konversi kimia dengan penambahan sumber fosfat.
Jember-Spektroom : Tim peneliti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember berhasil mengembangkan bahan pengganti tulang rahang (Bone graft) berbahan dasar gipsum Puger, Jember, yang dipadukan dengan pati singkong. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan bahan lokal sebagai alternatif bahan impor yang lebih terjangkau untuk mendukung keberhasilan pemasangan implan gigi dan rehabilitasi prostodontik.
Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember Dr. drg. Amiyatun Naini, M.Kes., memanfaatkan gypsum Puger Jember yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan industri bangunan dan semen.
“Puger itu memiliki potensi lokal yang sangat besar, tapi selama ini hanya untuk industri bangunan atau semen. Saya ingin mengeksplorasi potensi daerah sendiri agar bisa dikembangkan untuk bidang kesehatan,” ujar Dr. Amiyatun, dikutip dari laman Unej, Senin (24/8/2026).

Menurut Dr. Amiyatun, pengembangan gipsum Puger sebagai bahan bone graft telah dimulai sejak tahun 2010. Pada tahap awal, penelitian dilakukan hanya menggunakan gipsum Puger sebagai bahan utama tanpa tambahan apapun.
Gipsum Puger dipilih karena kaya akan kalsium yang dapat diolah menjadi hidroksiapatit melalui proses konversi kimia dengan penambahan sumber fosfat. Hidroksiapatit sendiri merupakan salah satu mineral utama penyusun tulang. Namun, hidroksiapatit yang dihasilkan dari gipsum Puger masih memiliki keterbatasan pada sifat mekanik dan stabilitasnya, sehingga diperlukan penambahan biopolimer untuk memperbaiki karakteristiknya.
Dari sinilah pati singkong kemudian ditambahkan sebagai biopolimer. kombinasi tersebut menghasilkan bahan komposit yang disebut Scafold Hydroxyapatite Gypsum Puger-Cassava Starch (HAGP-CS). Penambahan pati singkong ditujukan untuk memperbaiki sifat bahan sehingga dapat digunakan sebagai scaffold atau rangka sementara bagi pertumbuhan tulang.

Cara kerjanya dapat dibayangkan seperti perancah atau steger dalam pembangunan gedung. Perancah digunakan sebagai tempat berpijak selama bangunan didirikan. Demikian pula HAGP-CS, material ini ditempatkan pada ruang bekas pencabutan gigi dan menjadi kerangka tempat sel pembentuk tulang menempel, bertumbuh dan berkembang. Ketika proses regenerasi berlangsung, scaffold tersebut secara bertahap terdegradasi. Dengan demikian, material yang semula menjadi kerangka sementara dapat digantikan oleh jaringan tulang yang terbentuk.
“Saya menggambarkannya seperti ini: misalnya rahang bawah yang giginya dicabut, tulangnya turun. Bahan ini dimasukkan ke bagian yang kosong sehingga tulang tumbuh kembali. Setelah tulang cukup kuat, implan yang bentuknya seperti pasak dimasukkan dan menyatu dengan tulang,” jelas Dr. Amiyatun.

Untuk melihat pengaruh HAGP-CS terhadap pembentukan tulang, tim peneliti melakukan uji in vivo pada 36 tikus Wistar. Hewan percobaan dibagi menjadi tiga kelompok, diantaranya kelompok yang mendapat scaffold HAGP, kelompok yang mendapat HAGP-CS, dan kelompok kontrol yang tidak diberi bahan scaffold. Setelah gigi geraham bawah dicabut, material berukuran 1mm x 1mm x 1mm ditempatkan pada ruang bekas pencabutan dan pengamatan dilakukan pada hari ke-7, ke-14, dan ke-28.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hari ke-28, kelompok HAGP-CS memiliki jumlah sel pembentuk tulang atau osteoblas paling tinggi, yakni mencapai 34 sel per lapang pandang mikroskop. Jumlah tersebut 1,45 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol yang mencapai 23 sel. Perbedaan tersebut terbukti signifikan secara statistik. Osteoblas merupakan sel yang berperan dalam pembentukan tulang. Semakin banyak sel ini ditemukan pada area bekas pencabutan, semakin kuat indikasi bahwa proses pembentukan tulang sedang berlangsung.
Perjalanan riset ini menunjukkan bagaimana bahan yang selama ini dikenal sebagai bagian dari industri bangunan dan bahan pangan sehari-hari dapat dikembangkan menjadi kandidat scaffold untuk regenerasi tulang. (Sumber: humas unej)