Gusti Yulian, Ketika Jalanan Menjadi Panggung dan Gitar Menjadi Teman Hidup
Banjarmasin-Spektroom : Di antara suara kendaraan dan percakapan orang-orang di Kota Banjarmasin, petikan gitar Gusti Yulian sesekali mencuri perhatian.
Ia tidak berdiri di atas panggung. Tidak pula berada di bawah sorotan lampu.
Hanya gitar yang dipeluknya dan suara yang keluar dari tenggorokan.
Hari itu, Yulian menyanyikan Bintang, lagu yang pernah populer dibawakan grup musik Anima sekitar 2006.
“Biarkan ku menggapaimu... memelukmu... memanjakanmu...”
Beberapa pasang mata menoleh.
Bagi orang yang baru melihatnya, Yulian mungkin tidak lebih dari seorang pengamen yang sedang mencari rezeki. Tetapi perjalanan hidupnya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.
Sebab, lelaki yang kini berjalan dari satu tempat ke tempat lain membawa gitar itu pernah merasakan riuhnya dunia band.
Ia pernah memainkan drum.
Ia pernah berlatih di studio.
Ia pernah mengikuti festival musik.
Dan ia pernah memiliki panggung bersama kawan-kawannya.
Kini, panggung itu telah berubah.
Jalanan menjadi tempatnya memainkan musik.
Masa ketika drum menjadi bagian hidup
Yulian tinggal di kawasan Sultan Adam, Banjarmasin.

Kecintaannya terhadap musik tumbuh sejak lama. Pada awal 2000-an, ia bergabung dalam sebuah band dan menjadikan drum sebagai alat musik utamanya.
Studio Malaka dan Studio RH menjadi bagian dari masa mudanya.
Di tempat-tempat itulah ia bersama kawan-kawan berlatih, menghabiskan waktu, menyiapkan penampilan, sekaligus mengejar pengalaman bermusik.
Sekitar 2003 hingga 2005, aktivitas bermusiknya cukup intens.
“Kawan-kawan sering ikut festival waktu tahun 2003 sampai 2005,” kenangnya.
Mereka juga beberapa kali mengisi acara perpisahan.
Ada kegembiraan tersendiri ketika suara musik yang dimainkan bersama dapat dinikmati orang lain.
Bagi Yulian, bermusik ketika itu bukan sekadar soal tampil. Ada persahabatan, kebersamaan dan kenangan yang terbentuk dari ruang-ruang latihan.
Namun, sebagaimana banyak kelompok musik lainnya, perjalanan band itu akhirnya berhenti.
Band bubar.
Yulian pun memilih vakum.
“Vakum karena band bubar,” katanya.
Sederhana, tetapi keputusan itu membuat salah satu bagian penting dalam hidupnya berubah.
Ketika kehidupan memindahkan panggung
Waktu terus berjalan.
Drum yang dahulu menjadi teman Yulian tidak lagi mudah ditemukan dalam kesehariannya.
Ada pula alasan lain. Menurutnya, seorang kawannya juga memainkan drum dan kemampuannya dinilai lebih baik.
“Karena kawan ada juga drum dan dia lebih bagus mainnya,” ujarnya.
Yulian kemudian beralih memainkan gitar.
Pilihan itu ternyata membawa dirinya ke kehidupan yang sama sekali berbeda.
Gitar lebih ringan dan praktis dibawa. Alat musik itu memungkinkan Yulian berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mengamen.
“Kalau gitar, saya bisa mengamen. Dibandingkan drum agak sulit,” katanya.
Sekitar lima tahun terakhir, itulah kehidupan yang dijalaninya.
Jalan Sultan Adam.
Kampung Melayu.
Jalan Tarakan.
Dari satu kedai makan ke kedai lainnya.
Yulian datang membawa gitar, lalu memainkan lagu-lagu yang dikenalnya.
Tidak ada panggung yang harus disiapkan.
Tidak ada tata cahaya.
Tidak ada sound system megah.
Orang-orang yang mendengarkan pun tidak datang khusus untuk melihatnya.
Mereka adalah orang-orang yang kebetulan berada di sana.
Ada yang berhenti sejenak.
Ada yang mendengarkan sambil makan.
Ada pula yang sekadar menoleh sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Dari merekalah Yulian memperoleh penghasilan.
Bukan sekadar mengamen
Bagi Yulian, mengamen bukan berarti meninggalkan dunia musik.
Justru sebaliknya.
Di jalanan, ia menemukan cara untuk tetap memainkan musik yang sejak muda dicintainya.
Jika dahulu ia memiliki rekan satu band, kini ia lebih sering bernyanyi bersama gitarnya.
Jika dahulu ia menunggu jadwal tampil, kini ia sendiri yang menentukan ke mana langkahnya pergi.
Jika dahulu musik dimainkan di studio dan festival, kini musik mengalir di antara aktivitas masyarakat.
Panggungnya memang lebih sederhana.
Namun musik tetap menjadi bagian dari hidupnya.
Ada sesuatu yang tidak berubah dari perjalanan itu: Yulian masih memainkan musik.
Hanya tempatnya yang berbeda.
Dari panggung besar ke panggung kehidupan
Perjalanan Gusti Yulian seperti mengingatkan bahwa kehidupan seorang musisi tidak selalu berjalan lurus.
Ada masa ketika seseorang berada dalam sebuah band.
Ada masa ketika panggung ramai oleh penonton.
Ada pula masa ketika musik hanya dimainkan untuk menyambung kehidupan.
Namun, perubahan itu tidak serta-merta menghapus kecintaan seseorang terhadap musik.
Yulian adalah salah satu contohnya.
Dari drum ke gitar.
Dari studio ke jalanan.
Dari band ke solo.
Dari festival ke kedai-kedai makan.
Panggungnya berubah, tetapi musik tetap tinggal.
Di tengah hiruk-pikuk Kota Banjarmasin, suara Yulian mungkin hanya terdengar beberapa menit sebelum ditelan suara kendaraan dan kesibukan kota.
Tetapi bagi dirinya, setiap petikan gitar adalah bagian dari perjalanan.
Ia tidak lagi harus memiliki panggung besar untuk disebut sedang bermusik.
Ia hanya perlu gitar, lagu, dan keberanian untuk terus bernyanyi.
Sebab kehidupan kadang tidak benar-benar mengambil sesuatu dari seseorang.
Kehidupan hanya memindahkan panggungnya.
Begitulah Yulian.
Dulu ia memainkan drum bersama kawan-kawan.
Kini ia berjalan seorang diri membawa gitar.
Dan selama senar-senar itu masih bisa dipetik, musik akan terus menjadi bagian dari hidupnya.
Di jalanan Banjarmasin, cerita Gusti Yulian belum selesai.