Habayang Ramaikan FBIM 2026, Permainan Tradisional Dayak Kembali Curi Perhatian Generasi Muda

Lomba Habayang bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi tersimpan upaya menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Habayang Ramaikan FBIM 2026, Permainan Tradisional Dayak Kembali Curi Perhatian Generasi Muda
Salah satu penampilan peserta lomba habayang di area GOR Indoor Serbaguna Jalan Tjilik Riwut Km 5 Palangka Raya. (Foto: MC PRaya)

Palangka Raya-Spektroom : Denting kayu ulin yang saling beradu di arena Habayang menjadi salah satu magnet tersendiri dalam gelaran Festival Budaya Isen Mulang 2026. Permainan tradisional khas Dayak itu sukses menyedot perhatian warga di area GOR Indoor Serbaguna Jalan Tjilik Riwut Km 5 Palangka Raya, Senin (18/5/2026).

Lomba Habayang yang digelar dalam rangka Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah tahun ini, bukan sekadar hiburan rakyat. Di balik putaran gasing kayu ulin itu, tersimpan upaya menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Pelaksana lomba Habayang, Sulandra mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar melestarikan permainan rakyat yang dahulu akrab di tengah kehidupan masyarakat Dayak.

“Lomba ini untuk menumbuhkan kepedulian sekaligus melestarikan nilai-nilai warisan masa lampau berupa permainan rakyat tradisional,” ujarnya.

Habayang sendiri merupakan permainan tradisional masyarakat Dayak Ngaju yang telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal Kalimantan Tengah. Meski permainan serupa juga ditemukan di sejumlah daerah lain di Indonesia, masyarakat Dayak memiliki teknik dan ciri khas tersendiri dalam memainkannya.

Dalam pertandingan, para peserta menggunakan sistem “Hatikam”, yakni saling melempar gasing untuk mematikan putaran lawan. Selain membutuhkan ketepatan, permainan ini juga menuntut strategi dan sportivitas tinggi.

“Bahan gasing terbuat dari kayu ulin dan harus polos tanpa ukiran. Tingginya sekitar 9 sentimeter dengan diameter sekitar 5,5 sentimeter,” jelas Sulandra.

Antusiasme penonton pun terlihat sepanjang perlombaan berlangsung. Salah seorang warga Palangka Raya, Sony, mengaku senang melihat permainan tradisional khas Kalimantan Tengah kembali ditampilkan secara meriah di FBIM 2026.

Menurutnya, Habayang bukan hanya permainan biasa, tetapi juga identitas budaya yang perlu diwariskan kepada generasi muda.

“Kita berharap semakin banyak anak muda ikut melestarikan permainan tradisional khas Dayak ini. Tidak hanya saat FBIM, tetapi juga dikembangkan lebih luas dalam berbagai event budaya lainnya,” harapnya.

Melalui lomba Habayang, FBIM 2026 tak hanya menghadirkan hiburan budaya, tetapi juga menjadi ruang penting untuk menjaga denyut tradisi agar tetap berputar di tengah perkembangan zaman. Sebab ketika permainan rakyat terus dimainkan, maka identitas budaya daerah ikut tetap hidup dan diwariskan. (Polin-ndik)

Berita terkait

Komitmen Hadirkan Data Akurat, Pemkab Gowa Siap Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Komitmen Hadirkan Data Akurat, Pemkab Gowa Siap Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Gowa-Spektroom: Pemerintah Kabupaten Gowa menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang bertujuan menghadirkan data ekonomi akurat dan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah. Hal tersebut ditandai dengan dilakukannya Pencanangan Komitmen Bersama dan Apel Siaga Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Lapangan Upacara Kantor Bupati Gowa, Jumat (12/6/

Nur Jalil Sultan, Julianto
Kemanunggalan TNI dengan Rakyat, Babinsa Barabai Turun Langsung dalam Jumat Bersih

Kemanunggalan TNI dengan Rakyat, Babinsa Barabai Turun Langsung dalam Jumat Bersih

Barabai-Spektroom : Dalam upaya mengantisipasi terjadinya banjir saat musim hujan, Babinsa Koramil 1002-06/Barabai Kodim 1002/Hulu Sungai Tengah, Serma Abdul Hamid bersama Bhabinkamtibmas dan warga Kelurahan Barabai Utara melaksanakan kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan, Jumat (12/6/2026). Kegiatan gotong royong difokuskan pada pembersihan saluran drainase dan lingkungan sekitar permukiman

Junaidi, Julianto