Hadapi Ancaman El Nino, Pemkot Ambon Siapkan Droping Air ke Wilayah Rawan Kekeringan
Ambon-Spektroom : Pemerintah Kota Ambon meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan dapat menurunkan debit air di sejumlah wilayah Kota Ambon. Langkah antisipasi telah disiapkan, mulai dari pemetaan daerah rawan hingga rencana droping air bersih secara gratis kepada masyarakat.
Hal itu disampaikan Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, usai menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Gedung Kantor BPD Gereja Bethel Indonesia (GBI) Maluku di Negeri Passo, Senin (3/8/2026).
Menurut Bodewin, kondisi geografis Ambon yang didominasi kawasan perbukitan membuat sebagian wilayah rentan mengalami krisis air ketika musim ikemarau panjang atau El Nino terjadi.
"Hampir 80 sampai 90 persen wilayah Kota Ambon merupakan daerah berbukit. Ketika El Nino terjadi, dampaknya adalah berkurangnya debit air yang berpotensi menyebabkan kekeringan," ujarnya.
Karena itu, ia telah menginstruksikan seluruh jajaran Pemerintah Kota Ambon untuk meningkatkan kewaspadaan dan memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi apabila kondisi tersebut terjadi.
Pemkot Ambon, lanjut Bodewin, juga telah menyiapkan koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai untuk melakukan droping air bersih secara gratis ke wilayah yang mengalami kekurangan air, sebagaimana dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
Kalau terjadi kekeringan, kita akan berkoordinasi dengan Balai Sungai untuk melakukan droping air kepada masyarakat secara gratis. Itu sudah kita lakukan dalam beberapa tahun terakhir," katanya.
Bodewin menjelaskan, pemerintah telah lebih dahulu memetakan kawasan yang berpotensi mengalami kekeringan, bahkan sebelum adanya ancaman El Nino tahun ini.
Menurutnya, wilayah dataran tinggi menjadi daerah yang paling rentan mengalami penurunan pasokan air bersih, sedangkan kawasan dataran rendah masih relatif terbantu oleh keberadaan sumur warga, meski debit air tanah mulai berkurang.
"Jangankan El Nino, sebelumnya pun kita sudah memetakan wilayah-wilayah yang rawan terhadap ancaman kekeringan atau berkurangnya debit air. Yang paling berisiko adalah daerah-daerah ketinggian," jelasnya.
Ia menegaskan, kunci menghadapi ancaman kekeringan adalah kemampuan pemerintah mengidentifikasi wilayah terdampak sejak dini dan mengambil langkah cepat agar kebutuhan dasar masyarakat tidak terganggu.
"Kita berharap mampu mengidentifikasi lebih awal dan mengambil langkah penanganan secara cepat sehingga masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap air bersih," pungkasnya.(EM)