Hangatnya Perayaan Ceng Beng dan Silaturahmi Keluarga di Pontianak
Pontianak-Spektroom : Aroma dupa menyebar pelan di antara nisan-nisan yang berjejer rapi di kawasan pemakaman warga Tionghoa di Sei Raya, Kubu Raya, yang mereka sebut dengan Perayaan "Ceng Beng" yang jatuh pada Senin (23/03/2026).
Di pagi yang tenang itu, puluhan keluarga datang dengan membawa persembahan—buah, makanan, hingga kertas sembahyang—sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dalam perayaan Ceng Beng.
Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar ritual tahunan. Namun bagi komunitas Tionghoa, Ceng Beng adalah perjalanan pulang—kembali mengingat akar, merawat hubungan yang tak terputus oleh waktu.
Di tengah prosesi itu, Ketua Umum Yayasan Budi Panjang Pontianak, Tan Khun Tong, tampak memimpin jalannya sembahyang leluhur.
Dengan sikap khidmat, ia bersama pengurus dan keluarga besar yayasan memanjatkan doa, berharap perlindungan dan keberkahan dari para leluhur.
“Tahun ini terasa lebih bermakna karena kita bisa kembali berkumpul seperti biasa,” ujarnya.
Ia mengingat masa pandemi yang sempat membatasi aktivitas ziarah, menjadikan perayaan kali ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga ungkapan syukur.
Ceng Beng memang bukan hanya tentang doa di atas makam. Ia adalah ruang pertemuan lintas generasi—tempat anak-anak belajar mengenal sejarah keluarganya, sementara orang tua menanamkan nilai bakti dan penghormatan.
Di lokasi yang sama, kelompok marga Lie atau Perkumpulan Asali juga melaksanakan ritual serupa.
Pemandangan ini memperlihatkan bagaimana tradisi tetap hidup, dijaga bersama oleh komunitas, dan diwariskan tanpa jeda.
Menjelang sore, suasana perlahan bergeser. Dari heningnya pemakaman, perayaan berlanjut ke ruang yang lebih hangat dan akrab.
Di sebuah Hotel di Pontianak, pengurus Yayasan Budi Panjang menggelar makan malam bersama.

Tak ada sekat formal dalam perjamuan ini. Tawa dan obrolan ringan mengalir di antara para tamu yang hadir—mulai dari pengurus yayasan hingga tokoh masyarakat Tionghoa.
Momen ini menjadi perekat, menghubungkan kembali relasi yang mungkin terpisah oleh kesibukan sehari-hari.
“Ini bukan sekadar makan bersama, tapi cara kita menjaga silaturahmi,” kata Khun Tong.
Di sela acara, ia juga menyinggung perkembangan fasilitas pemakaman di kawasan Wajok.
Pembangunan pagoda, gerbang, hingga area parkir yang kini telah rampung menjadi bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan masyarakat saat berziarah.
Langkah ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Ketua Yayasan Bhakti Suci, Ciu Sim Pheng.
Ia menilai pembenahan tersebut sebagai bentuk pelayanan nyata bagi komunitas.
“Fasilitas yang baik akan membuat masyarakat lebih nyaman menjalankan tradisi,” ujarnya.
Namun lebih dari itu, Ceng Beng di Pontianak tahun ini menghadirkan pesan sederhana: tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan kehidupan modern.
Di tengah arus perubahan, nilai-nilai seperti bakti, kebersamaan, dan rasa hormat tetap menemukan tempatnya.
Saat malam beranjak, perjamuan pun usai. Namun makna yang dibawa dari hari itu tak berhenti di meja makan atau di antara makam.
Ia terus hidup—dalam ingatan, dalam keluarga, dan dalam tradisi yang akan kembali dirayakan di tahun-tahun mendatang.
(Feature Budaya oleh: Apolo Welly)