Haus Hiburan di Tengah Malam, Kampung Piala Dunia Ternate Bergemuruh Saksikan Drama Argentina

Haus Hiburan di Tengah Malam, Kampung Piala Dunia Ternate Bergemuruh Saksikan Drama Argentina
Tua muda bukan sekedar berkumpul untuk bersenang senang, namun sebagai ajang, berdiskusi tentang banyak Hal. (Foto ,: Sdmin Hamudu).

Ternate – Spektroom : Jarum jam bahkan belum mendekati tengah malam ketika Taman Film Kampung Piala Dunia di Benteng Oranje, Ternate, mulai dipenuhi warga.

Seusai salat Isya, satu per satu mereka datang membawa kursi lipat, mengenakan jersey tim favorit, hingga rela duduk di pelataran agar mendapat posisi terbaik menghadap layar raksasa.

Bagi mereka, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ini adalah ruang berkumpul, berbagi cerita, sekaligus melepas penat setelah seharian beraktivitas.

Suasana itu mencapai puncaknya saat Argentina menghadapi Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026, Rabu (8/7) dini hari WIT. Sorak-sorai bergantian terdengar mengikuti setiap peluang yang tercipta.

Ketika wasit Francois Letexier menunjuk titik penalti untuk Argentina, ribuan pasang mata langsung tertuju ke layar. Sebagian bersorak, sebagian lagi menggelengkan kepala. Ketegangan berubah menjadi ledakan kegembiraan saat kiper Mesir Mostafa Shobeir berhasil menggagalkan eksekusi Lionel Messi.

0:00
/0:36

Pecinta bola memadati lapangan Taman Film Kampung Piala Dunia di Benteng Oranje, Ternate,(Vidio : Samin Hamudu).

Drama belum berhenti. Gol Mesir pada babak kedua dianulir setelah peninjauan VAR. Keputusan itu kembali memancing perdebatan di antara para penonton. Ada yang bertepuk tangan mendukung keputusan wasit, ada pula yang menganggap teknologi video telah terlalu jauh mengubah jalannya pertandingan.

Namun semua perdebatan seolah terlupakan ketika Argentina mencetak gol kemenangan pada masa injury time. Taman Film Benteng Oranje langsung bergemuruh. Pendukung Argentina saling berpelukan, sementara pendukung Mesir hanya bisa menghela napas panjang.

Di tengah keramaian itu, pemerhati sepak bola Ternate, Asgar, menilai perdebatan soal VAR memang sulit dihindari.

"VAR hadir untuk membantu wasit mengurangi kesalahan. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan wasit. Yang paling penting, setiap pertandingan tetap menjunjung tinggi sportivitas sehingga tidak merugikan tim yang sudah berjuang habis-habisan," ujarnya.

Bagi warga Ternate, malam itu bukan hanya tentang kemenangan Argentina 3-2 atas Mesir. Yang lebih berkesan adalah kebersamaan ribuan orang yang rela begadang demi menikmati pesta sepak bola terbesar di dunia.

Kini, perhatian pecinta bola di Kampung Piala Dunia Benteng Oranje mulai tertuju ke babak perempat final yang akan mempertemukan Prancis melawan Maroko, Spanyol menghadapi Belgia, Norwegia melawan Inggris, serta duel Argentina kontra Swiss.

Mereka pun bersiap kembali mengorbankan waktu tidur, demi merasakan lagi denyut emosi yang hanya bisa dihadirkan oleh sepak bola.

Berita terkait

Karolin: IPM Landak Masih Tertinggal, Guru Harus Jadi Motor Perubahan

Karolin: IPM Landak Masih Tertinggal, Guru Harus Jadi Motor Perubahan

Landak-Spektroom : Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, meresmikan gedung hasil revitalisasi SMP Negeri 3 Sompak, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Rabu (8/7/2026). Namun, peresmian fasilitas pendidikan tersebut tak hanya menjadi seremoni pembangunan infrastruktur. Karolin memanfaatkan momentum itu untuk menyampaikan kritik sekaligus tantangan kepada para tenaga pendidik agar mampu meningkatkan kualitas

Apolonius Welly, Rafles
Khitanan Massal PAM Jaya Pecahkan Rekor MURI, Targetkan 5.000 Peserta pada Perayaan 500 Tahun Jakarta

Khitanan Massal PAM Jaya Pecahkan Rekor MURI, Targetkan 5.000 Peserta pada Perayaan 500 Tahun Jakarta

Jakarta – Spektroom : Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, resmi menutup rangkaian kegiatan khitanan massal di Ruang M.H. Thamrin, Grha Ali Sadikin, Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (8/7/2026). Kegiatan sosial hasil kolaborasi PAM Jaya bersama Tim Penggerak PKK Provinsi DKI Jakarta tersebut mencatatkan prestasi nasional dengan memecahkan rekor Museum

Irvan Idris Saleh, Nurana Diah Dhayanti