Hujan Abu Krakatau di Langit Jakarta : Di Antara Masker yang Terlupa dan Ancaman Partikel Tajam

Hujan Abu Krakatau di Langit Jakarta : Di Antara Masker yang Terlupa dan Ancaman Partikel Tajam
Pedagang bersihkan debu dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dengan menyiramkan air di Jakarta Timu, Minggu ( 6/9/2026) ( Foto Spektroom )

Jakarta - Spektroom : Di bawah terik matahari Jakarta yang terasa kian kering, Ganda (35) terus mengayunkan selang air ke pelataran sebuah masjid di kawasan Jakarta Timur. Air yang menyemprot dari selang seketika mengubah hamparan abu kelabu tipis menjadi aliran air keruh.

"Krakatau ...debu Pak," ujarnya singkat sambil menyeka peluh pada Minggu (6/9/2026) siang.

Bagi Ganda dan jutaan warga ibu kota lainnya, Minggu ini bukanlah akhir pekan biasa. Sejak Sabtu (5/9/2026) dini hari, erupsi Gunung Anak Krakatau telah mengirimkan sebaran abu vulkanik jauh menyeberangi selat, hingga menyelimuti langit Jakarta. Polusi udara kasat mata ini menempel di mana-mana.

Ilustrasi Erupsi Gunung Anak Krakatau ( Foto AFP)

Di Jalan Pahlawan Revolusi, seorang karyawan tampak memandangi sepeda motornya yang terparkir dengan lesu. Lapisan debu tebal mengubah warna asli kendaraannya.

"Ya, kotor banget ...debu," keluhnya

Namun, ada pemandangan kontras yang terekam di sudut-sudut kota. Meski partikel abu vulkanik melayang di udara, denyut nadi aktivitas warga Jakarta tampak berjalan normal. Berdasarkan pantauan, sejumlah warga seolah tak peduli. Mereka tetap berlari pagi, bersepeda, atau sekadar nongkrong di ruang publik tanpa mengenakan masker pelindung.

Abainya sebagian warga kontras dengan alarm waspada yang ditiupkan pemerintah pusat. Dari ruang konferensi pers, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tidak panik, namun tetap wajib waspada karena abu vulkanik memiliki partikel tajam yang menyimpan tiga ancaman utama: pernapasan, mata, dan kulit.

"Yang pertama, dari sisi Kementerian Kesehatan, kami berpesan kepada masyarakat agar tidak panik. Ada tiga hal yang mesti kita jaga bersama," kata Menkes Budi.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.( Foto tangkapan layar YouTube TV Parlemen)

Pemerintah bergerak cepat. Fasilitas kesehatan seperti Puskesmas kini disiagakan penuh dengan pasokan nebulizer, oksigen konsentrator, obat tetes mata, hingga salep kulit. Masyarakat diminta segera berobat jika mengalami sesak atau gatal, serta dilarang keras mengucek mata jika kelilipan debu vulkanik.

"Bersihkan menggunakan air," pesan Budi.

Di langit Jakarta, upaya 'pembersihan' skala besar juga sedang diupayakan. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengonfirmasi bahwa pesawat modifikasi cuaca telah disiagakan di Pondok Cabai untuk menggencarkan hujan buatan hingga malam hari. Langkah ini diambil demi meluruhkan sisa-sisa abu yang menggantung di udara pemukiman warga.

Hingga hujan buatan itu turun, warga Jakarta kini dihadapkan pada pilihan: terus abai dan menantang risiko partikel tajam Krakatau, atau memilih aman di dalam rumah demi kesehatan mereka sendiri.

Berita terkait