HWC Hadirkan Ruang Diskusi Kritis Tantangan Budaya Digital di Kalangan Generasi Muda
Palangka Raya-Spektroom: Di tengah derasnya arus globalisasi digital yang memengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda, Hade’s Writing Class (HWC) menghadirkan ruang diskusi intelektual yang membahas isu sosial kontemporer di kalangan mahasiswa.
Pada Sabtu (9/5/2026), komunitas literasi mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Palangka Raya itu menggelar sharing session bertajuk “Menjawab Tantangan LGBTQ dan Sinergi Sosial Agama dalam Menjaga Fitrah Agama” di area outdoor Eltipark Cafe, Palangka Raya.
Diskusi berlangsung aktif dengan beragam sudut pandang dari perspektif agama, psikologi, sosial, komunikasi, hingga budaya digital.
Pemantik pertama, Syifa, menjelaskan definisi LGBTQ+, mulai dari lesbian, gay, biseksual, transgender, queer, hingga questioning atau individu yang masih mencari identitas dirinya.
Ia menyoroti besarnya pengaruh media digital dalam membentuk pola konsumsi hiburan, opini, hingga normalisasi perilaku tertentu di tengah masyarakat.
Dalam forum tersebut juga dibahas tingginya konsumsi konten digital di Indonesia, termasuk maraknya series BL/GL, fandom digital, dan tren media sosial yang membuat isu LGBT semakin sering muncul di ruang publik digital seperti TikTok, X/Twitter, Telegram, dan YouTube.
Pemantik kedua, Said, menilai fenomena tersebut berpotensi menciptakan domino effect atau efek berantai yang perlahan menurunkan sensitivitas moral masyarakat karena perilaku menyimpang dibungkus dalam humor dan hiburan digital.
“Awalnya dianggap lucu dan hanya bercanda, tetapi ketika terus diulang dan dinormalisasi, masyarakat menjadi terbiasa melihat sesuatu yang sebelumnya dianggap tabu,” ujarnya.
Diskusi juga menyinggung sejumlah konten hiburan dan film anak yang dinilai mulai menyisipkan unsur tertentu secara terselubung. Peserta menilai lemahnya literasi digital, minimnya pengawasan konsumsi media, serta kurangnya ruang diskusi sehat di lingkungan keluarga dan pendidikan menjadi faktor yang membuat generasi muda rentan terpengaruh.
Fenomena tersebut dinilai relevan dengan kondisi sosial di Kalimantan Tengah, termasuk Palangka Raya, yang belakangan beberapa kali diwarnai perbincangan viral terkait perilaku sosial di media digital.
Founder HWC, Desi Erawati menegaskan mahasiswa harus hadir sebagai intelektual muda yang tidak apatis terhadap persoalan masyarakat.
“Kita harus tetap konsisten dan istiqamah berada di jalan yang benar. Mahasiswa tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial dan keberanian menghadirkan solusi,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Mentor HWC, Masrul Maulana Pratama mengajak mahasiswa menjadikan literasi sebagai alat perubahan sosial.
“Mahasiswa harus konsisten menulis dan peka terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. Penulis bukan hanya pengamat, tetapi juga harus mampu menjadi problem solver. ,” ujarnya.
Melalui kegiatan, Hade’s Writing Class menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan merangkai kata, melainkan sarana membangun kesadaran sosial, memperkuat daya kritis, serta menghadirkan ruang edukatif bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan budaya digital masa kini. (Polin-MMP)