Indonesia, Negeri Anak Muda yang Menentukan Masa Depan Dunia
Oleh: Syafaruddin Daeng Usman
Pontianak- Spektroom : Delapan puluh satu tahun setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding masa awal berdirinya bangsa.
Jika dahulu perjuangan berfokus pada merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kini tantangan terbesar adalah bagaimana memaksimalkan potensi bangsa di tengah persaingan global yang semakin kompleks. Dalam konteks itu, Indonesia sesungguhnya adalah negara anak muda yang memiliki peluang besar untuk mendunia.
Globalisasi dan perkembangan teknologi informasi telah menghapus banyak batas geografis. Generasi muda Indonesia kini hidup dalam ruang yang terhubung dengan masyarakat dunia.
Mereka berinteraksi, belajar, dan bekerja dalam lingkungan yang semakin universal. Namun, keterbukaan tersebut juga menghadirkan tantangan: bagaimana menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
Di sinilah pentingnya akar nilai yang diwariskan para pendiri bangsa. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan semangat perjuangan kemerdekaan bukan sekadar simbol sejarah, melainkan fondasi yang menjaga arah perjalanan bangsa.
Nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan zaman.
Indonesia lahir dari keberagaman. Berbagai suku, agama, budaya, dan bahasa sepakat membentuk satu negara bernama Republik Indonesia.
Karena itu, menjaga keberagaman bukan hanya kewajiban moral, melainkan syarat utama keberlangsungan bangsa. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, Indonesia justru memiliki modal sosial yang kuat untuk menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan.
Namun, kebesaran bangsa tidak akan lahir hanya dari kekayaan sumber daya alam. Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas manusianya.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak anak muda yang profesional, berintegritas, dan berdedikasi di berbagai bidang. Tantangan kemiskinan, ketimpangan, pendidikan, kesehatan, hingga perubahan iklim membutuhkan generasi yang mampu menghadirkan solusi nyata.
Membangun bangsa pada dasarnya adalah membangun manusia. Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh slogan atau pidato, melainkan oleh bagaimana individu, keluarga, dan masyarakat membangun kebiasaan hidup yang produktif, adil, dan saling mendukung.
Semangat gotong royong yang telah mengakar selama ratusan tahun menjadi modal berharga yang tidak dimiliki banyak bangsa lain.
Nilai kebersamaan itulah yang harus terus dipelihara. Kepentingan bersama harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Semangat solidaritas perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga, tempat kerja, hingga ruang-ruang pengambilan keputusan publik.
Menuju Indonesia Emas 2045, waktu yang tersedia tidak lagi panjang.
Anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah akan menjadi pemimpin bangsa ketika Indonesia berusia 100 tahun.
Karena itu, periode saat ini menjadi fase penentu: apakah Indonesia akan tampil sebagai bangsa yang maju dan berpengaruh, atau justru tertinggal dalam kompetisi global.
Kemerdekaan bukan sekadar warisan yang dirayakan setiap tahun. Kemerdekaan adalah amanah untuk terus memperbaiki kehidupan bangsa.
Dengan generasi muda yang berwawasan global, berakar kuat pada nilai-nilai Indonesia, dan berkomitmen pada kepentingan bersama, Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi bangsa besar, tetapi juga menjadi inspirasi bagi dunia.
(Syafaruddin Daeng Usman adalah
Ketua Umum DHD 45 Kalimantan Barat)