Jateng Terus Kejar Target Swasembada Pangan
Semarang - Spektroom: Berbagai strategi terintegrasi berbasis data dan intervensi lapangan digencarkan, untuk mengejar target swasembada pangan pada 2026 dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak).
Kepala Distanak Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, di kantornya, Senin (6/4/2026) menyampaikan, hingga awal 2026, sejumlah indikator produksi menunjukkan tren positif, meski masih dalam tahap awal musim tanam.
Meski demikian, neraca pangan Jawa Tengah menunjukkan kondisi yang relatif aman. Per Maret 2026, neraca beras tercatat surplus sebesar 702.409 ton.
Kondisi surplus juga terjadi pada komoditas daging dan telur selama periode Januari–Maret 2026, sehingga kebutuhan masyarakat dinilai masih dapat terpenuhi.
“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi agar surplus ini bisa merata, dan menjaga stabilitas harga,” ujar Frans, sapaannya.
Dalam mendukung pencapaian target produksi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan berbagai program strategis pada 2026.
Diantaranya, bantuan benih dan sarana produksi untuk padi seluas 47.200 hektare, jagung 3.200 hektare, kedelai 3.000 hektare, cabai 310 hektare, serta bawang merah TSS seluas 25 hektare.
Selain itu, intervensi juga dilakukan pada komoditas perkebunan, seperti tebu seluas 1.010 hektare, kopi 770 hektare, dan kelapa 540 hektare.
Dari sisi infrastruktur, pemerintah merehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier, dan membangun 75 paket irigasi perpipaan.
Modernisasi pertanian juga diperkuat melalui distribusi alat dan mesin pertanian, antara lain 100 unit rice transplanter, 86 unit traktor crawler, 30 unit traktor roda empat, 100 unit pompa air, 10 unit combine harvester, serta puluhan unit cultivator dan hand tractor.
Pada sektor perlindungan petani, program asuransi usaha tani padi mencakup 10.449 hektare lahan, serta asuransi tembakau seluas 10.000 hektare. Pemerintah juga mengalokasikan subsidi suku bunga bagi 800 paket pembiayaan petani.
Upaya tersebut diperkuat dengan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) serta program kesehatan hewan, termasuk vaksinasi terhadap 100.000 ekor ternak, dan pengobatan untuk 10.000 ekor ternak.
Menurut Frans, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sistem pertanian. Hal itu mencakup penguatan luas baku sawah, peningkatan indeks pertanaman, serta pemanfaatan teknologi pertanian.
Pemerintah juga mengembangkan konsep kemitraan “petarung sejati”, yakni pelaku usaha dan petani yang mampu menjaga ketersediaan dan distribusi komoditas strategis. Salah satu implementasinya, komitmen penyediaan 450 ton cabai rawit merah untuk mengantisipasi periode off season pada 2026.
Di tengah tantangan berupa alih fungsi lahan, penurunan luas baku sawah sebesar 17.114 hektare pada 2025, serta potensi kehilangan produksi hingga 191.297 ton, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat koordinasi lintas sektor.
Sinergi dilakukan dengan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/ kota, Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, hingga aparat keamanan, guna memastikan pencapaian target produksi berjalan optimal.
“Kolaborasi menjadi kunci. Dengan dukungan semua pihak, kami optimistis Jawa Tengah mampu mencapai swasembada pangan, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan kesejahteraan petani,” ujar Frans.