Jejak Danau Purba di Bawah Bandung

Jejak Danau Purba di Bawah Bandung
Titik merah, lokasi Danau Purba di Cekungan Bandung.

Bandung - Spektroom : Kota Bandung yang kini dipadati permukiman, gedung, jalan, hingga berbagai infrastruktur modern ternyata menyimpan jejak sejarah geologi panjang di bawah permukaannya. Wilayah yang dikenal sebagai Cekungan Bandung itu pada masa lalu merupakan danau purba. Endapan yang ditinggalkan Danau Bandung Purba itu menjadi salah 1 faktor penting yang perlu diperhatikan karena karakter materialnya dapat memperkuat efek guncangan ketika terjadi gempa bumi.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Hidayat menjelaskan keberadaan Danau Bandung Purba telah dibuktikan melalui penelitian geologi, termasuk pengeboran yang menemukan lapisan endapan danau dan rawa. Endapan tersebut terbentuk dalam perjalanan geologi yang berlangsung selama puluhan ribu tahun.

Pembentukan Danau Bandung Purba berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik Gunung Sunda. Letusan gunung tersebut menghasilkan material vulkanik yang membendung aliran Sungai Citarum purba sehingga air menggenangi Cekungan Bandung dan membentuk danau. Danau itu diperkirakan mulai terbentuk sekitar 90 ribu tahun lalu dan bertahan hingga sekitar 16 ribu tahun lalu.

“Letusan gunung itu membendung sungai yang ada di tengah Danau Bandung. Aliran air terus menerus ada, menggenang seluruh dataran Bandung, menjadi sebuah danau,” ujar Edi, dalam siaran pers yang diterima Spektroom, Sabtu (22/08/2026).

Dalam perkembangannya, air danau kemudian menemukan jalan keluar dengan mengikis batuan melalui jalur struktur rekahan melalui kawasan yang sekarang dikenal sebagai Curug Jompong. Bersamaan dengan proses tersebut dan faktor alam lainnya, genangan secara bertahap menyusut hingga terbentuk bentang Cekungan Bandung seperti yang dikenal saat ini. Namun, mengeringnya danau tidak serta-merta menghilangkan material yang selama ribuan tahun mengendap di dasarnya.

Jejak itulah yang menurut Edi penting dipahami dalam konteks kebencanaan. Hasil pengeboran menunjukkan adanya endapan rawa yang kaya material organik, lapisan lempung, endapan vulkanik, serta sisipan lapisan pasir. Sebagian endapan tersebut hingga kini belum mengalami proses litifikasi, konsolidasi, dan pemadatan secara sempurna sehingga relatif lebih lunak dibandingkan batuan keras di sekeliling cekungan.

“Posisi endapan ini sebenarnya sekarang belum terlitifikasi, belum terkompaksi dan terkonsolidasi dengan baik. Kalau diibaratkan seperti agar-agar, sebagian masih lunak. Bagian permukaan saja yang keras yang kita tinggali, tetapi sebenarnya di bawah itu masih ada bagian-bagian endapan yang belum terkonsolidasi dan terkompaksi dengan baik,” jelasnya.

Karakter endapan tersebut menjadi penting diperhatikan, jika suatu saat Cekungan Bandung menerima gelombang gempa. Perbedaan karakter antara batuan keras yang mengelilingi Bandung dan material lebih lunak yang mengisi cekungan dapat menimbulkan amplifikasi, yakni penguatan guncangan gempa pada lapisan tanah tertentu.

Kondisi itu seperti material lunak di dalam sebuah wadah yang ikut bergerak ketika wadah diguncang. “Cekungan Bandung ini hampir seluruh bagian dasar dan sekelilingnya disusun batuan-batuan keras dari produk gunung api dan batuan sedimen yang jauh lebih tua, sementara di tengahnya adalah batuan yang masih relatif lunak dengan umur yang jauh lebih muda. Kalau dikasih getaran, ada efek namanya amplifikasi. Amplifikasi ini yang akan berbahaya bagi Kota Bandung kalau ada gempa.

Potensi tersebut menjadi relevan karena Bandung berada tidak jauh dari sejumlah sumber gempa bumi di darat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Sesar Lembang, yang membentang sekitar 29 kilometer kerarah barat - timur dan berjarak sekitar 10 kilometer di utara kota Bandung. Selain Sesar Lembang, penelitian geofisika juga menunjukkan indikasi keberadaan patahan-patahan lain di bawah permukaan Cekungan Bandung yang tidak semuanya terlihat di permukaan.

Karakteristik Danau Bandung Purba secara geologi perlu dipahami lebih jauh. Karakter endapan bekas danau dapat memengaruhi respons tanah ketika gelombang gempa dari suatu sumber mencapai Cekungan Bandung. Karena itu, risiko gempa tidak cukup dilihat hanya dari sumber gempanya, tetapi juga kondisi geologi wilayah yang menerima guncangan.

Selain amplifikasi, keberadaan lapisan pasir yang mempunyai sifat porositas tinggi pada endapan danau Bandung juga perlu diperhatikan karena terkait dengan potensi likuifaksi. Ketika lapisan pasir jenuh air menerima tekanan akibat guncangan gempa, tekanan air di dalam material dapat meningkat dan mendorong air serta pasir menuju permukaan. Kondisi tersebut berpotensi dapat memicu penurunan tanah.

Potensi likuifaksi di Bandung dengan peristiwa likuifaksi berskala besar yang pernah terjadi di daerah lain, seperti di Kota Palu, Sulawesi. Keberadaan lapisan pasir dan air tanah jenuh pada endapan Danau Bandung Purba merupakan salah 1 kondisi geologi yang memungkinkan berdampak negatif yang perlu menjadi kajian risiko kegempaan daerah Bandung.

Kondisi bawah permukaan itu menjadi semakin penting karena kawasan Cekungan Bandung telah berkembang menjadi wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan infrastruktur yang tinggi. Berbagai bangunan dan infrastruktur berdiri di atas endapan yang memiliki karakter geologi berbeda-beda. Pemahaman mengenai struktur bawah permukaan diperlukan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko apabila gempa terjadi.

Pembangunan di Bandung harus memperhatikan kondisi geologi sekaligus standar teknis bangunan tahan gempa. “Pembangunan di Bandung ini harus melihat kode bangunan. Harus diperhatikan kekuatan secara tekniknya seperti apa, kalau ada gempa besar bagaimana bangunannya.

Gempa bumi memang tidak selalu terjadi dalam interval waktu yang pendek, tetapi konsekuensinya dapat menjadi besar. Pengetahuan mengenai sejarah Danau Bandung Purba seharusnya tidak berhenti sebagai cerita mengenai masa lalu Bandung. Jejak geologinya justru menjadi informasi penting untuk memahami karakter wilayah yang kini dihuni jutaan orang.

Cekungan Bandung ini rentan terhadap bencana geologi, terutama gempa bumi, likuifaksi, penurunan tanah dan longsor di bagian batas cekungan, kondisi tersebut perlu direspons melalui mitigasi struktural maupun nonstruktural, termasuk memperkuat bangunan dan terus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana di lingkungan tempat tinggalnya. (pur)

Berita terkait

Menteri ATR/BPN Pastikan Pelayanan Pertanahan Tetap Berjalan di Tengah Proses Hukum KPK

Menteri ATR/BPN Pastikan Pelayanan Pertanahan Tetap Berjalan di Tengah Proses Hukum KPK

Jakarta-Spektroom : Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid memastikan pelayanan pertanahan kepada masyarakat tetap berjalan meski Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah melakukan proses hukum di lingkungan kementeriannya. Nusron menegaskan, Kementerian ATR/BPN menghormati proses hukum yang sedang dilakukan KPK dan siap memberikan dukungan sesuai

Fatmawaty, Bian Pamungkas
Pemprov Jateng Bebaskan PKB Dari Sanksi Administrasi dan Pajak Progresif

Pemprov Jateng Bebaskan PKB Dari Sanksi Administrasi dan Pajak Progresif

Semarang-Spektroom : Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan relaksasi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), melalui pembebasan sanksi administrasi atau denda serta pembebasan pajak progresif. Kebijakan tersebut mulai berlaku 21 September hingga 28 Desember 2026. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Muhamad Masrofi mengatakan, kebijakan tersebut diberikan untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak kendaraan

Sigit Budi Riyanto, Julianto