Jepang, Ketika Adab Menjadi Bagian dari Perjalanan

Jepang, Ketika Adab Menjadi Bagian dari Perjalanan
Bukan hanya Jalan. Sungaipun nampak bersih bebas dari sampah. (Foto : Haryanto Adi)

Osaka-Spektroom : Ada perjalanan yang meninggalkan foto di galeri ponsel. Ada pula perjalanan yang meninggalkan pertanyaan di kepala.

Perjalanan ke Katshuyama, Osaka, 16 September 2026, menghadirkan pengalaman semacam itu. Bukan hanya karena pemandangan Jepang yang tertata, tetapi karena hal-hal kecil yang dilakukan warganya dalam keseharian.

Sepanjang jalan, mata nyaris tidak menemukan sampah berserakan. Yang terlihat justru dedaunan kering yang jatuh dari pepohonan. Sampah rumah tangga dikumpulkan dalam kantong plastik transparan dan diikat rapi, meski tidak setiap sudut lingkungan memiliki tempat sampah.

Yang lebih menarik terjadi di jalan raya. Ketika ada plastik atau kertas tercecer, warga yang sedang mengendarai sepeda maupun sepeda motor tak jarang berhenti sejenak. Sampah dipungut, dimasukkan ke bagasi atau saku pakaian, lalu perjalanan dilanjutkan.

Di wilayah Kawaguchi, aliran sungai tampak bening dan bersih tanpa sampah.(Foto : Haryanto Adi).

Hal sederhana juga terlihat dari cara warga memperlakukan hewan peliharaan. Saat hewan membuang kotoran ketika diajak berjalan, pemiliknya menunggu hingga selesai, kemudian membersihkannya menggunakan tisu, membungkusnya dan membawanya pergi. Tidak dibiarkan menjadi urusan orang lain.

Bagi wisatawan, kebiasaan kecil semacam itu justru menjadi atraksi yang tidak tercantum dalam brosur perjalanan. Kesan serupa muncul ketika jurnalis Spektroom menanyakan sebuah alamat. Warga yang ditemui tidak hanya menunjuk arah. Mereka bersedia berjalan kaki dan mengantar sampai titik yang dituju, meski sebenarnya tujuan mereka berbeda.

Di dalam kereta, kepedulian terhadap kenyamanan bersama juga terasa. Ada penumpang yang memilih berdiri daripada berebut tempat duduk. Ruang publik seolah diperlakukan sebagai milik bersama yang harus dijaga kenyamanannya.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Otsuki. Pemandangan kota perlahan berganti menjadi kawasan pertanian. Di wilayah Kawaguchi, aliran sungai tampak bening dan bersih tanpa sampah.

Di sebuah ruang terbuka, ketika masyarakat tampak sibuk bergerak menuju tempat kerja, muncul renungan sederhana: apa yang membuat perilaku menjaga lingkungan dan menghormati orang lain begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari?.

Jawabannya mungkin tidak cukup dijelaskan oleh satu faktor.
Namun perjalanan ini menunjukkan bahwa nilai kebaikan dapat hadir tanpa banyak kata. Ia terlihat ketika seseorang memungut sampah yang bukan miliknya, membersihkan kotoran hewan peliharaannya, membantu orang asing menemukan jalan, atau memilih menjaga kenyamanan orang lain.

Di lingkungan permukiman, keberadaan kuil, gereja dan masjid juga memperlihatkan keberagaman ruang ibadah yang hadir di tengah kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, Jepang bukan hanya menawarkan destinasi untuk difoto. Jalan-jalannya, sungainya, kereta dan interaksi manusianya menghadirkan pengalaman yang lebih dalam: wisata dapat menjadi ruang untuk belajar tentang kehidupan.

Sebab, perjalanan yang berkesan bukan semata-mata ketika mata menemukan tempat yang indah, tetapi ketika hati menemukan sebuah kebiasaan baik yang ingin dibawa pulang.

Berita terkait