Kakankemenag Sawahlunto: Pendidikan RA Harus Berbasis Cinta, Bermain, dan Penguatan Karakter Sejak Dini
Sawahlunto–Spektroom : Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kota Sawahlunto, Dr. H. Zulkifli, S.Ag., M.M., menegaskan bahwa pendidikan di jenjang Raudhatul Athfal (RA) harus berorientasi pada pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan berlandaskan kasih sayang. Menurutnya, anak usia dini perlu diberikan ruang untuk tumbuh melalui pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap perkembangannya, bukan dibebani dengan tuntutan akademik yang berlebihan.
Pesan tersebut disampaikan Zulkifli saat menjadi narasumber pada Workshop Kurikulum Raudhatul Athfal (RA) yang diikuti pengurus dan guru Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kota Sawahlunto, Kamis (9/7/2026), di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto.
Workshop mengusung tema "Menciptakan Pembelajaran Bermakna, Mendalam, dan Berbasis Cinta bagi Anak Usia Dini" sebagai upaya meningkatkan kompetensi pendidik dalam menyusun dan mengimplementasikan kurikulum yang selaras dengan karakteristik peserta didik usia dini.
Dalam paparannya, Zulkifli menekankan bahwa keberhasilan sebuah lembaga RA tidak hanya diukur dari kualitas proses pembelajaran di kelas, tetapi juga dari tata kelola kelembagaan yang profesional dan akuntabel.
"Salah satu fondasi penting dalam pengembangan lembaga adalah manajemen keuangan yang tertib dan transparan. Pengelolaan yang baik akan mendukung keberlangsungan program pendidikan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat," ujarnya.
Selain aspek manajemen, ia juga mendorong setiap satuan pendidikan RA agar mampu mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan, potensi, dan karakteristik peserta didik. Menurutnya, kurikulum tidak boleh sekadar menjadi dokumen administratif, tetapi harus dapat diterapkan secara nyata dalam kegiatan belajar sehari-hari.
"Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang hidup, mudah diimplementasikan, dan benar-benar menjawab kebutuhan perkembangan anak," katanya.
Dalam kesempatan itu, Zulkifli mengingatkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan fase paling penting dalam pembentukan karakter. Oleh karena itu, proses pembelajaran hendaknya lebih banyak menghadirkan pembiasaan positif dibandingkan memberikan berbagai larangan atau tekanan kepada anak.
Menurutnya, pendekatan yang dilandasi cinta, keteladanan, dan penghargaan terhadap proses tumbuh kembang anak akan menghasilkan pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, bertanggung jawab, serta memiliki karakter yang kuat.
"Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, rasakan, dan alami setiap hari. Karena itu, guru harus menjadi teladan sekaligus pendamping yang menghadirkan rasa aman dan nyaman dalam proses belajar," jelasnya.
Kakankemenag juga menyoroti pentingnya membangun kepercayaan orang tua terhadap lembaga pendidikan. Hal itu, menurutnya, dapat diwujudkan melalui lingkungan belajar yang bersih, sehat, aman, nyaman, serta komunikasi yang terbuka antara pihak sekolah dengan keluarga.
Ia menilai sinergi antara guru dan orang tua menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan anak usia dini.
"Kepercayaan masyarakat akan tumbuh ketika sekolah mampu memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas sekaligus menciptakan lingkungan yang ramah bagi anak," ungkapnya.
Lebih lanjut, Zulkifli menegaskan bahwa esensi pendidikan di Raudhatul Athfal adalah bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Anak usia dini, katanya, memperoleh pengetahuan melalui aktivitas yang menyenangkan sehingga tidak semestinya diperlakukan seperti peserta didik di jenjang sekolah dasar.
Pendekatan pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan berbasis pengalaman diyakini mampu mengoptimalkan perkembangan kognitif, sosial, emosional, motorik, serta spiritual anak secara seimbang.
Workshop Kurikulum RA yang digelar IGRA Kota Sawahlunto ini diharapkan menjadi momentum peningkatan kapasitas para guru dalam menyusun kurikulum yang adaptif, inovatif, dan berpihak pada kebutuhan anak. Sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Agama, pendidikan RA diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, serta memiliki karakter kuat sejak usia dini. (Ris1)