Karhutla Menyala di Kubu Raya Raya di Suasana Idul Fitri
Kubu Raya- Spektroom: Asap tipis mulai merayap sejak pagi, lalu berubah menjadi kepulan tebal yang menggantung rendah di atas permukiman. Bagi warga Sungai Raya Dalam, Kubu Raya, yg masih dalam suasana silaturahmi Idul Fitri ini bukan sekadar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) biasa.
Api datang perlahan, merambat diam-diam dari bawah tanah gambut, lalu muncul ke permukaan dengan amukan yang sulit ditebak.
Sejak Rabu hingga Kamis (26/03/2026), warga hidup dalam kecemasan. Api yang membakar lahan kering semakin mendekati rumah, bahkan mengancam fasilitas umum seperti masjid, surau, hingga Pondok Pesantren Tapis.
Di beberapa titik, bara masih menyala di balik tanah, membuat pemadaman terasa seperti melawan sesuatu yang tak terlihat. Di lapangan, petugas BPBD bersama Damkar swasta Cempaka tak henti berjibaku. Selang air ditarik panjang melintasi semak dan lahan hangus. Namun, air menjadi barang langka.
Parit-parit mengering, kolam surut, dan pasang air laut yang biasanya membantu justru tak kunjung datang. “Api ini bukan cuma di atas, tapi di dalam tanah. Itu yang bikin sulit,” ujar Rony seorang petugas, sambil menyemprotkan air ke titik panas yang tiba-tiba kembali menyala.
Di tengah kepungan asap, sebagian warga memilih bertahan. Mereka bergotong royong menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Ada yang menyiram halaman rumah, ada pula yang mengamankan barang-barang penting. Sementara itu, anak-anak dan lansia mulai dievakuasi menjauh dari lokasi terparah.
Bupati Kubu Raya, Sujiwo, turun langsung ke lokasi. Tanpa ragu, ia ikut memegang selang dan membantu proses pemadaman. Namun di balik aksinya itu, tersimpan kemarahan yang tak bisa disembunyikan.
Ia menilai kebakaran ini bukan semata faktor alam. Ada kelalaian manusia yang terus berulang—pembakaran sampah yang tak terkendali, yang kemudian menjalar menjadi bencana.
“Kita sudah sering mengingatkan. Tapi masih saja ada yang membakar sembarangan,” ujarnya dengan nada kecewa.
Angin yang berembus kencang memperparah keadaan. Api cepat menjalar, melompati batas yang sebelumnya dianggap aman. Dalam hitungan jam, lahan yang tadinya hanya berasap berubah menjadi kobaran.
Kini, upaya pemadaman masih terus berlangsung. Namun bagi warga, yang mereka hadapi bukan hanya api hari ini, melainkan ancaman yang selalu kembali setiap musim kering datang.
Dan di atas tanah gambut yang rapuh itu, harapan satu-satunya hanya satu: hujan yang belum juga turun.