Kebaktian Paskah, Nuansa Putih, di Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan (GKSBS), Bengkulu
Bengkulu - Spektroom: Bagi umat Kristiani, kebangkitan Yesus Kristus yang dirayakan pada Paskah adalah bukti kemenangan-Nya atas dosa dan kematian.
Peristiwa ini memberikan harapan yang tak tergoyahkan akan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya. Paskah menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan jembatan menuju kehidupan baru bersama Allah.
Pendeta Thomas Yulianto, S.Th dalam pelayanan firman yang mengakat tema "Mentransformasikan Berita Kebangkitan Kristus" menyampaikan, Peristiwa kebangkitan yang kita baca ini merupakan peristiwa yang sudah terlewat begitu jauh.
Bagi kita ketika membaca teks Yohanes karena kita sudah tahu bahwa Yesus yang telah mati itu akan bangkit. Ya kita biasa-biasa saja. Tetapi ketika kita terjadi seperti halnya Maria Magdalena dan Maria yang lain bersama dengan Petrus dan murid yang dikasihi, kita pasti juga mengalami kehilangan pengharapan.
Saat ini kehidupan kita ditentukan oleh algoritma, yang kita konsumsi itu, itulah yang akan terus ditawarkan oleh dunia. Hal itu dimaksudkan agar kita mengikuti terus menerus apa yang sering kita konsumsi itulah yang akan terus ditawarkan sehingga kita mudah untuk tergiur di dalamnya.
"Dunia memiliki algoritma tersendiri dalam kehidupan. Jika ada masalah, kita stres. Jika ada kematian saudara kita, kita berduka. Jika ada kegagalan dalam hidup, kita merasa putus asa" lanjut Pendeta Thomas dalam khotbahnya, pada Kebaktian Paskah, Nuansa Putih, di Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan (GKSBS), Bengkulu, Minggu (5/4/2026).
Hal itulah yang juga dirasakan oleh Maria Magdalena. Di pagi paskah itu dalam pikiran Maria, Yesus telah mati, namun kuburnya kosong. Bayangannya adalah jenazah Yesus pasti telah dicuri.
"Kita mudah sekali menyimpulkan sesuatu. Saya rasa Maria Magdalena juga demikian. Walaupun dia melihat Yesus yang telah menyembuhkan dia dari roh jahat. Tetapi dalam pikirannya dia, kuburnya kosong jenazahnya tidak ada, otomatis bayangannya adalah Yesus dicuri"
Namun, tanpa disadari, algoritma Maria Magdalena juga terus menghantui dalam kehidupan kita. Kita khawatir tentang apa yang belum terjadi dengan asa depan kita, selalu curiga dengan orang lain.
Namun demikian pendeta Thomas Yulianto juga berharap, meskipun memandang orang lain sama, memandang orang lain dengan sensitif, namun semoga algoritma yang dikonsumsi itu adalah sesuatu yang baik. Sehingga dunia menawarkan sesuatu yang baik juga dalam hidup manusia.
Melalui kebangkitan Kristus, Allah menghadirkan jalan baru untuk memulihkan keadaan tersebut. Di dalam Kristus, manusia tidak hanya diampuni, tetapi juga diperbarui menjadi pribadi yang baru.
Kehidupan yang lama digantikan dengan kehidupan yang diarahkan kembali pada tujuan Allah.
Paskah, lanjut Pendeta Thomas, juga melambangkan awal yang baru dan harapan yang tak terbatas. "Kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa bahkan setelah penderitaan dan kematian, selalu ada kehidupan baru dan pembaruan"
Ini adalah seruan bagi umat Kristiani untuk meninggalkan kehidupan lama yang dikuasai dosa dan menjalani kehidupan yang diubahkan sesuai ajaran Kristus.
Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus menebus dosa umat manusia, membuka jalan bagi keselamatan dan rekonsiliasi dengan Tuhan.
Paskah adalah penggenapan janji Allah tentang penebusan, menunjukkan kasih-Nya yang tak terbatas kepada dunia. Ini adalah landasan iman yang menguatkan persekutuan umat beriman.(@Ng).