Kenangan Lebaran bersama Kebo Bule Keraton Surakarta

Kenangan Lebaran bersama Kebo Bule Keraton Surakarta
Sambil duduk-duduk santai warga dan keluarganya menyaksikan Kebo Bule Keraton Surakarta. (Foto: Ciptati Handayani)

Surakarta-Spektroom: Kebo (kerbau) Bule yang ada di alun-alun selatan Keraton Surakarta ternyata membuat kenangan tersendiri bagi para wisatawan atau pemudik yang berlibur di Kota Solo.

Betapa tidak, untuk menyaksikan hewan ternak sebagai pusaka Keraton ini, warga tidak perlu membeli tiket, karena terbuka dan leluasa. Bahkan siapapun bisa datang kapan saja, asal tidak malam hari karena kerbau dimasukkan ke kandang bagian dalam.

Kerbaunya jinak, tetap dalam kandang bagian luar yang diberi batas pagar agak terbuka namun aman. Jadi, saat menyaksikan kerbau ini, warga bisa langsung bercekerama dengan memberi makan berupa sayuran segar atau kalau mau menyentuh kebo bulenya.

“Iya ini sama anak-anak, suka sekali melihat kerbau disini dan selalu memberi makan berupa kangkung. Disini asik ya, sante, tempatnya lapang, bisa sambil duduk di kursi taman di trotoar depan kandang. Ini tentunya akan menjadi kenangan tersendiri bagi anak-anak dan keluarga saya,” ucap Shasa, ibu rumat tangga - pemudik asal Jakarta sebelum meninggalkan Kota solo, Minggu (29/3/2026).

Setelah berlibur dan berkeliling di beberapa kota di Jawa Tengah, Shasa bersama keluarga memang sengaja menghabiskan masa liburan lebaran di tempat orangtuanya di kawasan Kabupaten Sukoharjo tak jauh dari Kota Solo. Tak lupa menyempatkan waktu untuk keluarga mencari hiburan ringan dengan jalan-jalan di sekitar alun-alun selatan sekaligus melihat kerbau bule.

Seorang anak bermain dan mendekati Kebo Bule Keraton Surakarta (Foto: Ciptati Handayani)

Tentang keberadaan kerbau bule, menurutnya itu merupakan sejarah atau legenda yang selalu dikisahkan para orangtua. Kerbau milik keraton itu, memang lestari hingga kini beranak pinak merupakan keturunan kerbau Kyai Slamet, bahkan dikeramatkan karena merupakan pusaka hewan piaraan raja-raja jaman dulu.

“Iya setau saya, ini kerbau keramat milik keraton ya, dulu sering diceritain sama orangtua. Sekarang banyak banget kerbaunya, udah beranak pinak, ada di beberapa kandang. Saya dan keluarga suka jalan-jalan ketempat yang unik dan memiliki sejarah termasuk kawasan alun-alun selatan yang ada kerbau legend,” ucapnya sambil berkisah.

Terpantau, tidak hanya anak-anak yang suka melihat dan memberi makan kerbau milik Keraton tersebut. Namun orang dewasa pun juga merasa terhibur.

Momen keseruan berwisata Kebo Bule itupun selalu diabadikan para warga sebagai kenangan dengan berfoto maupun video.

“Seru aja sih, kita bisa ngasih makan kangkung sama kerbaunya, sambil foto-foto. Apalagi disini tempatnya lapang dan leluasa. Modal untuk parkir kendaraan aja kita bisa sante disini, melepas kepenatan di Kota besar yang sibuk,” kata Fredy asal Jakarta, yang liburan di Solo.  

Tak hanya jalan-jalan santai melihat kebo bule yang berada disisi selatan alun-alun, warga juga bisa menikmati kuliner yang tersedia di shelter sebelah barat dan timur. Tersedia cukup banyak makanan khas, seperti nasi liwet khas Solo, Soto, wedangan, gorengan dan aneka minuman segar lainnya. (Ciptati Handayani)

Berita terkait

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih NTB dipercepat, Operasional dan Digitalisasi Jadi Fokus

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih NTB dipercepat, Operasional dan Digitalisasi Jadi Fokus

Mataram-Spektroom : Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat terus mendorong percepatan penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai bagian dari program prioritas nasional dalam membangun ekonomi berbasis desa. Berdasarkan update data minggu ke-IV Maret 2026, capaian pembinaan menunjukkan progres yang signifikan. Dari total target, sebanyak 1.166 KDKMP telah memiliki legalitas

Marsam Putrangga, Julianto
Gelar Halal Bihalal Gubernur Mirza Ajak Jadikan Nilai-nilai Ramadan sebagai Fondasi DiKehidupan dan Lingkungan Kerja

Gelar Halal Bihalal Gubernur Mirza Ajak Jadikan Nilai-nilai Ramadan sebagai Fondasi DiKehidupan dan Lingkungan Kerja

Bandarlampung - Spektroom : Halal Bihalal bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat capaian dan pembelajaran selama bulan Ramadan. Ia menilai, nilai-nilai seperti disiplin, pengendalian diri, dan peningkatan ibadah harus tercermin dalam kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Hal itu disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djauzal pada Halal bilhalal Idul Fitri 1447

Anggoro AP