Kenduri Agung Satu Suro di Petilasan Jayabaya: Merawat Doa, Menjaga Persaudaraan dari Desa Menang

Kenduri Agung Satu Suro di Petilasan Jayabaya: Merawat Doa, Menjaga Persaudaraan dari Desa Menang
Kenduri Agung dalam rangkaian peringatan satu suro di Petilasan Sri Aji Joyoboyo ( foto: buang).

Kediri-Spektroom: Di tengah suasana khidmat menyambut datangnya Satu Suro, ratusan peziarah dan warga Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, menggelar Kenduri Agung di Aula Petilasan Prabu Sri Aji Jayabaya, Senin (15/6/2026).

Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan antara doa, syukur, dan kebersamaan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Jawa.


Puluhan tumpeng tersaji rapi di atas tikar yang dibentangkan di tengah aula. Warna-warna nasi yang beragam—kuning, putih, hitam, hingga biru—menambah kekayaan makna dalam ritual kebudayaan tersebut.

Di sekelilingnya, para peziarah duduk bersila dengan khusyuk, mengikuti rangkaian prosesi tanpa sekat sosial maupun perbedaan latar belakang.
Dalam tradisi Jawa, kenduri tidak sekadar makan bersama. Ia menjadi ruang batin kolektif tempat masyarakat menundukkan diri, memanjatkan doa, dan memperkuat ikatan sosial dalam satu kesadaran: hidup adalah kebersamaan.


Doa dipimpin oleh juru kunci Pamoksan, Mbah Sunarto atau yang akrab disapa Mbah Gabin. Dengan suara tenang dan penuh penghayatan, ia mengajak seluruh hadirin memohon keselamatan, keberkahan, dan ketenteraman bagi kehidupan bersama.

Juru kunci Mbah Gabin membacakan doa ( foto:buang).​


“Kenduri ini merupakan bentuk syukur sekaligus doa bersama agar kehidupan masyarakat senantiasa diberi keselamatan dan keberkahan,” ujar Mbah Gabin dalam prosesi tersebut.


Dalam suasana hening, batas-batas sosial seolah melebur. Tua dan muda, sederhana dan berkecukupan, semua larut dalam satu harapan yang sama: tahun baru Jawa membawa kebaikan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.


Kenduri Agung ini digelar setelah prosesi jamasan Batu Manik Jayabaya, salah satu ritual sakral yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Satu Suro di Petilasan Jayabaya. Tradisi tersebut setiap tahun menarik peziarah dari berbagai daerah yang datang untuk mengikuti perjalanan budaya sekaligus spiritual.


Setelah doa bersama, para peserta kemudian duduk melingkar menikmati nasi tumpeng dan nasi golong yang telah disiapkan. Dari sanalah makna kebersamaan menemukan bentuk paling sederhana: berbagi dari satu wadah yang sama, saling tersenyum, dan menyapa tanpa jarak.


Nasi golong yang berbentuk bulat melambangkan tekad yang menyatu, persatuan yang tidak terpecah, serta harapan agar manusia senantiasa berada dalam lingkaran kebaikan. Sementara tumpeng yang menjulang ke atas menjadi simbol bahwa setinggi apa pun cita-cita manusia, muaranya tetap kembali kepada Sang Pencipta.


Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, tradisi kenduri menjadi semacam oase budaya. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus memutus akar, melainkan dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai leluhur yang menuntun pada kebijaksanaan.


Sejumlah tokoh masyarakat menilai, Kenduri Agung tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga penguat hubungan sosial antarwarga. Nilai gotong royong, rukun, dan saling menghormati kembali dihidupkan dalam ruang yang sederhana namun bermakna.


Melalui Kenduri Agung Satu Suro ini, masyarakat Desa Menang terus merawat warisan spiritual dan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Petilasan Jayabaya pun kembali menjadi ruang perenungan bersama tentang arah hidup dan nilai kebersamaan.


Dari Desa Menang, pesan Prabu Sri Aji Jayabaya seolah kembali bergaung lintas zaman: bahwa hidup bukan semata soal kepentingan diri, melainkan tentang menjaga harmoni, merawat persaudaraan, dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam perbedaan.


Sebab pada akhirnya, Satu Suro bukan hanya pergantian penanggalan Jawa. Ia adalah ajakan untuk membersihkan hati, menata niat, dan melangkah kembali dengan kesadaran yang lebih jernih.


Dan di antara puluhan tumpeng yang disantap bersama di Petilasan Jayabaya itu, masyarakat kembali menemukan pelajaran sederhana namun abadi: kebahagiaan selalu terasa lebih utuh ketika dibagikan bersama.

Berita terkait

NTB Siap Gelar MotoGP 2026 dengan Semangat Dari Mandalika Mendunia

NTB Siap Gelar MotoGP 2026 dengan Semangat Dari Mandalika Mendunia

Mataram-Spektroom : Nusa Tenggara Barat menatap MotoGP Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 dengan optimisme tinggi. Seluruh unsur penyelenggara, pemerintah daerah, aparat keamanan, transportasi hingga sektor pariwisata terus memastikan kesiapan masing-masing, dengan satu target yang sama: MotoGP Mandalika 2026 harus terselenggara lebih baik dari tahun sebelumnya dan memberikan dampak yang lebih

Marsam Putrangga, Julianto
Beri Ruang Untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Tiga Mentri Tanda Tangani SKB Ruang Bersama Indonesia

Beri Ruang Untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Tiga Mentri Tanda Tangani SKB Ruang Bersama Indonesia

Jakarta - Spektroom: Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyampaikan bahwa pemberdayaan perempuan merupakan bagian penting dalam pembangunan desa. Hal itu disampaikan Yandri Susanto pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dirangkaikan dengan Penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang penyelenggaraan Ruang Bersama Indonesia (RBI) untuk pemberdayaan

Anggoro AP
Kerja Sama RI-Selandia Baru Masuk Fase Kedua, Listrik Terbarukan Jadi Penggerak Ekonomi Pulau-Pulau Maluku

Kerja Sama RI-Selandia Baru Masuk Fase Kedua, Listrik Terbarukan Jadi Penggerak Ekonomi Pulau-Pulau Maluku

Ambon-Spektroom : Kerja sama Indonesia dan Selandia Baru di sektor energi terbarukan memasuki babak baru. Setelah berjalan sekitar lima tahun dan sempat terganggu pandemi Covid-19, kedua negara kini menyiapkan fase kedua program untuk memperluas akses listrik, memperkuat sumber daya manusia, sekaligus mendorong masyarakat Maluku menjadi pelaku utama pengembangan energi bersih. Komitmen

Eva Moenandar, Julianto
ссс