Kepala Tegak Ujung Senja Pengabdian di Tengah Badai Korupsi
Jakarta - Spektroom : Pukul dua dini hari, saat Jakarta terlelap dalam dingin subuh, mata Bambang (bukan nama sebenarnya) masih terjaga di kamar petak kontrakannya. Asap mengepul dari sisa rokok terakhir di jemarinya. Gawai di tangan memantulkan berita tentang kasus-kasus korupsi di luar sana sebuah kontras telak dengan dompetnya yang nyaris kosong
Di usianya yang menginjak 81 tahun, purnawirawan aparatur negara ini memilih merenungi hidup dengan damai. Uang pensiun awal bulan yang datang bagai embun langsung lenyap tersapu potongan cicilan bank demi menyambung hidup. Sisa ratusan ribu rupiah menguap dalam dua hari. Impian memiliki rumah sendiri di ibu kota pun tetap menjadi angan yang jauh, memaksa dirinya terus memperpanjang kontrak rumah dari tahun ke tahun.
Bagi Bambang, berita korupsi dana jaminan hari tua sangat menyayat hati. Kasus korupsi investasi fiktif PT Taspen yang sempat merugikan negara hingga Rp1 triliun meski KPK telah memulihkan aset senilai Rp883 miliar terasa seperti hantaman langsung bagi 4,8 juta ASN yang telah jujur mengabdi.
Sebagai mantan pejabat, Bambang kerap melihat ketimpangan materi di antara sesama mantan aparatur. Baginya, kemewahan yang tidak selaras dengan profil penghasilan resmi terasa tidak masuk akal. Namun, fokus Bambang bukan pada rasa iri. Ia memilih membasuh mukanya dengan air wudhu, memperkuat benteng batin agar tidak goyah oleh tantangan hidup. Ia percaya bahwa niat yang tidak baik tidak akan pernah kokoh membawa seseorang berjalan ke depan.
Banyak tetangga tidak mengetahui bahwa pria bersahaja ini dulunya adalah seorang pejabat hingga masa pensiunnya tiba. Bambang tidak pernah menyesal. Baginya, bisa hidup sehat di hari tua adalah salah satu kebanggaan terbesar yang patut disyukuri.
Esok paginya, Bambang kembali menembus terik dan bising Jakarta. Bersama sang istri, ia melangkah ringan membantu menjajakan dagangan kuliner kecil-kecilan. Meski omzet sering tidak menentu di tengah melemahnya daya beli masyarakat, tiada sesal yang merusak nuraninya.
Tubuhnya kurus namun kokoh seperti karang. Memakai baju kusam tapi tampak bersih. Matanya melihat ke depan dengan tenang dan tabah. Bagi Bambang, integritas adalah warisan termahal, dan ia memilih menutup hari dengan syukur serta jiwa yang sepenuhnya merdeka.