Kesetaran Pendidikan Bagi Siswa Disabilitas Di Solo Diperkuat Sekolah Inklusi dan SLB
Spektroom - Mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi anak penyandang disabilitas di Kota Surakarta terus diperkuat sekolah-sekolah inklusi maupun sekolah luar biasa (SLB).
Sekolah yang sudah mewujudkan kesetaraan pendidikan di SDN Nayu Barat 1 Surakarta, telah menanamkan prinsip memberi kesempatan yang sama bagi semua siswa bahkan menjadi fondasi utama dalam proses belajar-mengajar.
Dikonfirmasi Kepala SDN Nayu Barat 1, Wahyu Ratnawati, menegaskan pihaknya tidak sekadar memperlakukan siswa secara sama, tetapi juga memberikan layanan sesuai kebutuhan masing-masing anak agar kemampuan berkembang optimal.
Dari sekitar 90 siswa inklusi yang dimiliki mulai dari slow learner, ADHD, autisme, hingga disleksia program yang dilakukan dengan memperkuat layanan, sekolah membangun kapasitas SDM baik guru, orang tua, maupun komite agar memahami prinsip inklusivitas.
Selain itu dua guru pendamping khusus dari Dinas Pendidikan juga dikerahkan, sementara kolaborasi dengan PLDPI memastikan siswa mendapatkan asesmen dan terapi lanjutan.
Dengan program tersebut menurut Wahyu target utama sekolah menyiapkan peserta didik menjadi pribadi yang mandiri dan diterima lingkungan sosial, bahkan siswa inklusi juga diberi ruang untuk tampil di panggung seperti dalam sebuah pementasan drama di Pura Mangkunegaran, beberapa anak berkebutuhan khusus menunjukkan performa yang membanggakan.
"Kami ingin menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu seperti yang lain " Ungkap Wahyu
Selain SDN Nayu, Sekolah Luar Biasa SLB YPAC Surakarta yang fokus melayani penyandang disabilitas fisik, aksesibilitas telah menjadi standar dasar sekolah sejak awal didirikan.
Kepala SLB YPAC Surakarta, Jalaludin Khawarizmi, menjelaskan seluruh fasilitas baik kurikulum hingga teknologi sekolah dirancang ramah bagi siswa pengguna alat bantu mobilitas, selain juga diterapkan layanan total care, mencakup pendidikan, kesehatan, hingga psikologi, dimana dalam satu kompleks, terdapat klinik fisio, terapi wicara, okupasi, serta dukungan dari psikiater untuk menjaga kesehatan mental peserta didik.
Saat ini YPAC membina sekitar 140 siswa, di mana 80% merupakan penyandang disabilitas fisik, dengan target yang dikejar kemandirian, baik secara ekonomi bagi siswa tanpa hambatan intelektual, maupun kemandirian sosial dan bina diri bagi anak dengan hambatan lebih berat.
" Kami latih mereka agar seminimal mungkin bisa melakukan aktivitas mandiri " Jelas Jalaludin
Solo Sebagai kota yang aktif mendorong pendidikan ramah disabilitas, langkah yang ditempuh SDN Nayu Barat 1 dan SLB YPAC Surakarta menjadi cerminan komitmen bersama untuk memastikan setiap anak, tanpa kecuali, mendapatkan ruang belajar yang layak dan bermakna.
Dengan kolaborasi lintas pihak, peningkatan kompetensi guru, hingga layanan terapi terpadu, sekolah-sekolah ini tidak hanya menghadirkan akses pendidikan, tetapi juga menyiapkan generasi penyandang disabilitas agar tumbuh percaya diri, mandiri, dan mampu berperan penuh di tengah masyarakat.( Dan )