Ketika Rebana Bertalu dan Doa Mengiringi Dabus, Warisan Leluhur Maluku Utara yang Tak Lekang Zaman

Ketika Rebana Bertalu dan Doa Mengiringi Dabus, Warisan Leluhur Maluku Utara yang Tak Lekang Zaman
Tradisi Dabus atau Badabus yang masih terpelihara di masyarakat Ternate dan Maluku Utara (Foto:Spektroom/Gino)

Ternate-Spektroom : Denting rebana mulai terdengar. Lantunan zikir dan shalawat mengisi ruang prosesi. Di tengah suasana khidmat itu, tradisi Dabus atau Badabus kembali hadir, membawa masyarakat Maluku Utara menyusuri jejak warisan leluhur yang telah bertahan lintas generasi.

Bagi masyarakat Maluku Utara, Dabus bukan sekadar pertunjukan. Di balik keberanian para pelakunya memainkan besi dan benda tajam, tersimpan nilai spiritual, kebersamaan, keteguhan hati, dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Tradisi itu hingga kini masih dijaga. Di Kota Ternate dan sejumlah wilayah Maluku Utara, Dabus masih dapat dijumpai dalam berbagai hajatan masyarakat.

Koordinator Lapangan Dabus, Dr Adityawan Ahmad, S.Pi., M.Si., kepada Spektroom, Selasa (1/9/2026), mengatakan pelaksanaan Dabus atau Badabus dipimpin oleh seorang Syeh, guru, atau khalifah.

Pemimpin tersebut memiliki peran dalam mengarahkan jalannya prosesi agar tetap mengikuti tata cara dan nilai yang diwariskan oleh para pendahulu.

“Suara tabuhan rebana yang berpadu dengan lantunan zikir menciptakan suasana yang penuh kekhusyukan. Tradisi Dabus menjadi salah satu cara masyarakat untuk merawat warisan leluhur sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga,” ujar Adityawan.

Dalam prosesi Dabus, peserta menggunakan besi atau benda tajam yang ditusukkan pada tubuh tanpa mengalami luka. Pemandangan tersebut mungkin tampak tidak biasa bagi orang yang baru pertama kali menyaksikannya.

Namun, bagi masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut, Dabus memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar mempertontonkan kekuatan fisik.

Dabus tidak dipandang sebagai ilmu hitam. Tradisi tersebut berlandaskan keyakinan spiritual melalui zikir, doa, dan pembacaan shalawat.

Keberanian yang ditampilkan dalam Dabus menjadi simbol keteguhan hati. Ia menggambarkan bagaimana disiplin mental dan keyakinan dapat membantu seseorang menghadapi rasa takut.

Dengan demikian, Dabus tidak hanya berbicara tentang kemampuan seseorang menahan rasa sakit. Ada pesan tentang bagaimana manusia membangun keyakinan, menjaga keteguhan hati, serta menyerahkan diri kepada Tuhan.

Dari Tahlilan hingga Syukuran Rumah Baru

Dabus juga memiliki tempat dalam berbagai momentum kehidupan masyarakat.

Tradisi ini dapat dilaksanakan sesuai niat, nazar, maupun hajatan tertentu. Dalam konteks peringatan kematian, misalnya, Dabus dapat menjadi bagian dari rangkaian tahlilan pada hari ke-7, ke-10, ke-40, ke-100, ke-300 hingga hari ke-360.

Selain itu, Dabus dapat hadir dalam hajatan keagamaan dan keluarga. Mulai dari syukuran menempati rumah baru, persiapan keberangkatan menunaikan ibadah haji, hingga keperluan pengobatan secara tradisional.

Artinya, Dabus tidak berdiri sendiri sebagai sebuah atraksi budaya. Ia tumbuh mengikuti kehidupan masyarakat yang menjadikannya bagian dari berbagai momentum sosial dan spiritual.

Di situlah kekuatan tradisi tersebut bertahan.

Di tengah perkembangan zaman, masyarakat tidak harus memilih antara menjaga tradisi atau menerima perubahan. Keduanya dapat berjalan beriringan.

Tradisi justru menjadi pengingat agar perubahan tidak membuat generasi baru kehilangan akar budayanya.

Bagi masyarakat Maluku Utara, Dabus menyimpan pesan yang lebih luas: keberanian harus berjalan bersama keyakinan, kekuatan harus disertai keteguhan hati, dan sebuah warisan budaya akan tetap hidup ketika masyarakat mau menjaganya bersama-sama.

Suara rebana, lantunan zikir, dan shalawat yang mengiringi prosesi menjadi bagian dari perjalanan panjang tradisi tersebut.

Dari satu generasi ke generasi berikutnya, Dabus terus diwariskan.

Bukan semata tentang besi yang menyentuh tubuh. Bukan pula tentang siapa yang paling berani.

Dabus adalah cerita tentang doa, keyakinan, persaudaraan, dan cara sebuah masyarakat menjaga ingatan terhadap leluhurnya.

Selama nilai-nilai itu masih dijaga, warisan Dabus akan tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara—menjadi bagian dari identitas budaya yang terus hidup di tengah zaman yang terus berubah.

Berita terkait

Rumah Zakat Bikin Bahagia Warga Sungai Miai, 240 Liter Minyak Goreng Ludes di Pasar Murah

Rumah Zakat Bikin Bahagia Warga Sungai Miai, 240 Liter Minyak Goreng Ludes di Pasar Murah

Banjarmasin–Spektroom : Kebahagiaan sederhana dirasakan warga Sungai Miai RT 10, Banjarmasin, saat Rumah Zakat menghadirkan program Pasar Murah Berdaya. Program tersebut menjadi bentuk kepedulian Rumah Zakat untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau. Pada pelaksanaan perdana, minyak goreng menjadi salah satu kebutuhan yang disediakan Rumah Zakat.

Junaidi, Buang Supeno
Polres Melawi Keluarkan Peringatan Keras: 18 Perusahaan Wajib Cegah Karhutla atau Hadapi Sanksi

Polres Melawi Keluarkan Peringatan Keras: 18 Perusahaan Wajib Cegah Karhutla atau Hadapi Sanksi

Melawi - Spektroom : Polres Melawi mengeluarkan peringatan keras kepada 18 perusahaan perkebunan dan kehutanan untuk serius mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah usaha masing-masing. Perusahaan diminta tidak hanya berkomitmen di atas kertas, tetapi memastikan seluruh langkah pencegahan berjalan di lapangan. Peringatan tersebut disampaikan dalam kegiatan edukasi, sosialisasi dan

Apolonius Welly, Buang Supeno