Ketika Serayu Surut, Sungai Berubah Menjadi Ruang Wisata dan Ladang Rezeki
Banyumas – Spektroom : Kemarau yang datang lebih awal tahun ini menghadirkan wajah yang tak biasa di Sungai Serayu. Aliran sungai terbesar di Banyumas itu menyusut drastis hingga menyisakan hamparan daratan luas di tengah sungai.
Pemandangan yang biasanya dipenuhi arus air kini berubah menjadi lautan manusia yang datang untuk menyaksikan fenomena langka tersebut.
Di Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, Minggu pagi (19/7/2026), ratusan pengunjung tampak berjalan di atas dasar sungai yang mengering. Banyak yang mengabadikan momen dengan telepon genggam, sementara anak-anak berlarian dan bermain air yang mengalir sebatas lutut anak-anak. Mereka menikmati pengalaman yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Bagi Warti (64), warga Purwokerto Barat, rasa penasaran membawanya datang ke lokasi. Selama puluhan tahun tinggal di Banyumas, baru kali ini ia mendengar bahkan menyaksikan Sungai Serayu surut sedemikian rupa.
"Saya cukup heran. Sebagian dasar Sungai Serayu sudah kering, berubah jadi daratan yang dipenuhi manusia dan pedagang," ujarnya tak percaya.
Rasa penasaran serupa juga dirasakan Arif, warga Kalimanah, Kabupaten Purbalingga. Setelah melihat berbagai unggahan di media sosial, ia memutuskan datang langsung.
"Ternyata informasi di media sosial itu benar. Mudah-mudahan saja kondisi ini tidak berdampak pada kekeringan bagi warga maupun petani," katanya.

Fenomena yang semula menjadi kekhawatiran akibat kemarau justru berubah menjadi magnet wisata dadakan. Setiap hari khususnya sore dan pagi hari, jumlah pengunjung terus bertambah apalagi hari Minggu.
Melihat kondisi tersebut, Heri pengurus Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Srowot bersama sekitar 25 pemuda desa bergerak cepat mengatur kawasan agar tetap aman dan tertib. Mereka membagi tugas mengatur lalu lintas kendaraan, parkir, keamanan pengunjung hingga menata keberadaan pedagang agar aktivitas wisata tetap nyaman.
"Para pemuda kami bagi tugas, ada yang mengatur lalu lintas, parkir, dan mengawasi pengunjung agar tidak terjadi musibah," ujar Heri, pengurus BPD Desa Srowot.
Ramainya pengunjung juga menghadirkan berkah bagi warga sekitar. Sekitar 25 pelaku UMKM membuka lapak di atas hamparan tanah yang beberapa waktu lalu masih tertutup air. Aneka kuliner seperti bakso, soto, cilok, dawet hingga bapau memenuhi kawasan tersebut.
Bahkan mobil penjual alat rumah tangga, dan tersedia persewaan kuda bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana dengan cara berbeda.
Sudar seorang penjual bapau asal Sokaraja tengah, mengaku penjualannya meningkat tajam sejak lokasi itu ramai dikunjungi.

"Biasanya bapau saya laku sekitar 200 buah. Di sini selama dua hari bisa terjual 400 buah. Hari ini mudah-mudahan bisa sampai 600 buah," tuturnya optimistis.
Di balik keramaian itu, fenomena surutnya Sungai Serayu tetap menjadi pengingat akan panjangnya musim kemarau yang tengah melanda Banyumas. Sumur warga, saluran irigasi, hingga debit sungai mengalami penyusutan yang signifikan.
Asisten II sekda Kabupaten Banyumas, Junaedi ketika ditemui spektroom Minggu (19/2026), mengaku belum mengetahui informasi tersebut.
"Saya baru dengar dari anda, mumpung saya lagi di Banyumas, nanti akan saya sempatkan kesana" ujar Junaedi.
Namun untuk sementara waktu, di tengah kekhawatiran akan ancaman kekeringan, hamparan dasar Sungai Serayu menghadirkan cerita lain: tentang rasa ingin tahu masyarakat, semangat gotong royong warga desa, dan rezeki yang mengalir bagi pelaku UMKM dari fenomena alam yang tak biasa.